{"id":249,"date":"2012-03-18T12:50:17","date_gmt":"2012-03-18T05:50:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.hpi.or.id\/?p=249"},"modified":"2012-03-18T12:50:17","modified_gmt":"2012-03-18T05:50:17","slug":"lapanta-pelatihan-penyuntingan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/lapanta-pelatihan-penyuntingan\/","title":{"rendered":"LAPANTA PELATIHAN PENYUNTINGAN"},"content":{"rendered":"<p>Laporan Pandangan Mata<\/p>\n<p>PDS H.B. Jassin, TIM Cikini 17 Maret 2012<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0929.jpg\" data-rel=\"penci-gallery-image-content\" ><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-266\" style=\"margin: 5px;\" title=\"Pelatihan Penyuntingan 17 Maret 2012\" src=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0929-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"199\" \/><\/a>Pelatihan Penyuntingan yang diadakan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) kali ini merupakan pelatihan pertama yang diadakan di tahun 2012 ini. Fasilitator yang berbagi ilmu dalam kesempatan kali ini adalah Ibu Sofia Mansoor yang sudah menjadi penerjemah sejak tahun 1980 dan Mas Ivan Lanin, penerjemah dan penyunting yang juga penyusun Kateglo dan wikipediawan. \u00a0Sayang sekali Bapak Hendarto Setiadi yang sebenarnya juga diminta menjadi fasilitator berhalangan hadir karena mengalami kecelakaan motor saat hendak berangkat ke acara HPI.<\/p>\n<p>Mbak Dita Wibisono yang bertindak sebagai MC membuka acara dengan mengajak para peserta melakukan <em>brain gym<\/em> supaya pikiran lebih terfokus. Menurut Mbak Dita, <em>brain gym<\/em> ini bisa menjadi solusi untuk menyegarkan pikiran saat konsentrasi sedang menurun dan pikiran mentok. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan perkenalan dari kedua pembicara dan semua peserta. Ternyata latar belakang para peserta cukup beragam. Selain sebagai penerjemah dan penyunting, ada beberapa orang yang berprofesi lain, seperti guru, ahli hukum, dan penulis. Beberapa orang lain juga mengaku baru belajar menerjemahkan atau menyunting. Yang mengagumkan, beberapa peserta ternyata datang dari luar Jakarta. Bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Medan dan Mataram (Lombok), khusus untuk mengikuti pelatihan ini.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-262\" style=\"margin: 5px;\" title=\"Fasilitator Pelatihan: Ivan Lanin &amp; Sofia Mansoor\" src=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0883-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"199\" \/>Acara pelatihan berlangsung seru, serius, tapi santai. Setiap peserta diberi salinan satu <em>folder<\/em> berisi <em>file<\/em> materi berikut latihannya untuk bahan diskusi. Agar setiap peserta bisa bekerja senyaman mungkin saat mengerjakan berbagai latihan yang diberikan fasilitator, panitia menyediakan kudapan pagi berupa kopi, teh, serabi, dan <em>sandwich<\/em> (alias roti lapis, kata Mas Ivan). Bu Sofia dan Mas Ivan bergantian menjelaskan berbagai topik yang menjadi bahan diskusi, diselingi canda yang tentu saja ampuh mencegah para peserta dari rasa kantuk dan lelah.<\/p>\n<p>Bu Sofia memulai diskusi dengan meluruskan pengucapan sebagian peserta yang masih keliru menyebut pekerjaan mereka sebagai \u201cpenterjemah\u201d. Yang benar adalah \u201cpenerjemah\u201d, yaitu orang yang \u201cmenerjemahkan\u201d (bukan \u201cmenterjemahkan\u201d). Mas Ivan menambahkan penjelasan bahwa menurut kaidah bahasa Indonesia, huruf \u201ct\u201d pada kata \u201cterjemah\u201d luluh bila bertemu awalan \u201cme-\u201d.<\/p>\n<p>Setelah itu, dimulailah latihan pertama, yaitu menyunting teks tanpa tanda baca. Setelah peserta diberi waktu beberapa puluh menit untuk mengerjakan, fasilitator meminta beberapa peserta untuk mempresentasikan pekerjaannya. Di sini, peserta harus mempresentasikan pekerjaan mereka sambil menjelaskan, mengapa mereka menyunting teks menjadi begini atau begitu. Ini sekaligus juga membiasakan peserta untuk bekerja atas dasar ilmu agar dapat mengemukakan argumen yang tepat kepada penerjemah dan klien.<\/p>\n<p>Tentu banyak sekali contoh kata dan kalimat yang menjadi bahan diskusi hangat. Namun, ada beberapa kesalahan umum yang jadi menarik saat diangkat dalam diskusi ini, antara lain kata perkecualian peluluhan huruf awal \u201cp\u201d dan \u201ck\u201d. Perkecualian hanya berlaku untuk kata \u201cmempunyai\u201d dan \u201cmengkaji\u201d. Huruf \u201cp\u201d dan \u201ck\u201d pada kedua kata tersebut tidak luluh. Ini berbeda dari, misalnya, kata \u201cmemukul\u201d (\u201cp\u201d pada \u201cpukul\u201d luluh) dan \u201cmengenal\u201d (\u201ck\u201d pada \u201ckenal\u201d luluh).<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignleft  wp-image-260\" style=\"margin: 5px;\" title=\"Pelatihan Penyuntingan 17 Maret 2012\" src=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0865-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"240\" height=\"159\" \/>Hal lain yang juga harus selalu diperhatikan penyunting adalah mencari dan menggunakan rujukan, seperti kamus dan ensiklopedia. Rujukan ini sangat penting agar penyunting bisa menyunting dengan benar, terutama bagian-bagian yang sulit dan tidak biasa, misalnya penulisan nama bilangan dan satuan ukuran.<\/p>\n<p>Untuk menjawab pertanyaan seorang peserta (saya!), meskipun agak melenceng dari materi penyuntingan, Bu Sofia juga memberi sedikit tips tentang penulisan alinea. Menurut Bu Sofia, cara penulisan alinea yang baik adalah dengan menuliskan ide atau kalimat utama pada bagian awal alinea atau akhir alinea (sebagai kesimpulan). Cara ini juga memungkinkan pembaca untuk mengetahui ide utama dan menangkap pesan setiap alinea dengan cepat.<\/p>\n<p>Setelah diselingi santap siang dengan menu lontong cap gomeh komplet, acara pun beranjak ke soal latihan berikutnya. Kali ini peserta diminta menyunting teks dengan berfokus pada kata \u201cand\u201d dalam kalimat. Ternyata kata \u201cand\u201d tidak selalu harus diterjemahkan sebagai \u201cdan\u201d. Dalam kalimat, kata \u201cand\u201d bisa dihilangkan atau diterjemahkan menjadi makna lain. Misalnya saja <em>\u201cHer hair is getting long<strong>er and<\/strong> long<strong>er<\/strong>\u201d<\/em> yang bisa diterjemahkan menjadi <em>\u201cSemakin lama, rambutnya semakin panjang\u201d.<\/em> Tentu saja perubahan atau penghilangan ini juga terkait erat dengan gaya masing-masing penerjemah dan penyunting. Perbedaan gaya ini dibolehkan selama tetap mendukung atau sesuai dengan konteks kalimat.<\/p>\n<p>Mas Ivan mengetengahkan topik \u201ckesalahan berbahasa\u201d dengan menujukkan halaman demi halaman salindia (padanan untuk <em>slide<\/em>) yang dibuatnya. Di sini Mas Ivan menekankan pentingnya unsur 5W+1H atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan akronim \u201castikamba\u201d. Masih menurut Mas Ivan, istilah \u201cbahasa yang baik\u201d sebenarnya sangat tergantung pada gaya bahasa yang digunakan dalam sebuah teks,\u00a0 apakah santai atau formal. Untuk menentukan kapan memakai yang formal atau santai, sebaiknya kita selalu mempertimbangkan faktor penentu komunikasi, misalnya sasaran, situasi, dan konteks.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-261 alignright\" style=\"margin: 5px;\" title=\"Pelatihan Penyuntingan 17 Maret 2012\" src=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0827-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"199\" \/>Salah satu contoh kesalahan yang masih sering ditemukan adalah ketiadaan subjek dalam kalimat. Kita sering kali masih menemukan kalimat tanpa subjek yang sering kali terasa wajar, padahal salah, misalnya \u201cKepada pengunjung harap antre dengan tertib.\u201d <span style=\"text-decoration: line-through;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Kapan kita memakai \u201cdi\u201d dan \u201cpada\u201d? Agar mudah diingat, mas Ivan memberi patokan, yaitu bahwa \u201cdi\u201d digunakan di depan kata yang menunjukkan lokasi, sedangkan \u201cpada\u201d digunakan bila objeknya manusia. Intinya, preposisi yang boleh dihilangkan hanyalah \u201coleh\u201d.<\/p>\n<p>Pada dasarnya, menurut Mas Ivan, yang sebenarnya harus dilakukan oleh seorang penyunting adalah komunikasi dengan manajer proyek dan penerjemah yang karya terjemahannya kita sunting. Yang paling penting dari sebuah karya terjemahan adalah bahwa terjemahan tersebut benar dan pesannya tersampaikan. Mas Ivan menyarankan agar pembicara tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang <em>preferential<\/em> seperti soal diksi karena hal tersebut terkait dengan \u201cselera\u201d penerjemah. Tugas penyunting adalah memperbaiki kesalahan, bukan mencari-cari kesalahan.<\/p>\n<p>Itulah sebagian kecil dari ilmu yang didapat oleh peserta hari itu. Sayang tidak semua bahan latihan sempat dibahas karena waktu yang terbatas. Waktu sehari tampaknya memang tidak cukup untuk para peserta yang teramat antusias mengerjakan latihan dan mempresentasikannya di depan yang lain.<\/p>\n<p>Setelah diselingi makan kudapan sore berupa sus keju dan <em>klappertaart<\/em> yang enak, pelatihan ini pun berakhir. Mbak Dita menutup acara pelatihan dan membagikan <em>door prize<\/em> berupa 2 buah novel terjemahan berjudul \u201cSaudagar Buku dari Kabul\u201d karangan Asne Seierstad. Peserta yang beruntung mendapatkan novel yang merupakan hasil terjemahan Bu Sofia sekitar 10 tahun lalu itu adalah Mbak Meita Lukitawati dan Mbak Lulu Fitri Rahman. Acara pamungkas adalah penyerahan sertifikat kepada Bu Sofia dan Mas Ivan selaku pembicara.<br \/>\nMeskipun acara pelatihan temu muka ini sudah berakhir, masih ada episode lanjutannya, yaitu lomba menyunting teks, khusus untuk para peserta pelatihan. Semua peserta diminta menyerahkan hasil suntingan mereka melalui surel kepada panitia pekan depan. Siapakah pemenangnya? Kita tunggu saja informasi selanjutnya!<\/p>\n<p><em>Mila Kartina<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932.jpg\" data-rel=\"penci-gallery-image-content\" ><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-263 aligncenter\" style=\"margin-top: 5px; margin-bottom: 5px;\" title=\"Pelatihan Penyuntingan 17 Maret 2012\" src=\"http:\/\/www.hpi.or.id\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932.jpg\" alt=\"\" width=\"432\" height=\"216\" srcset=\"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932.jpg 800w, https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932-300x150.jpg 300w, https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932-768x384.jpg 768w, https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-content\/uploads\/2012\/03\/IMG_0932-585x293.jpg 585w\" sizes=\"(max-width: 432px) 100vw, 432px\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laporan Pandangan Mata PDS H.B. Jassin, TIM Cikini 17 Maret 2012 Pelatihan Penyuntingan yang diadakan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) kali ini merupakan pelatihan pertama yang diadakan di tahun 2012 ini.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":262,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[74,135,137,158],"class_list":["post-249","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lapanta","tag-hpi-himpunan-penerjemah-indonesia","tag-pds-hb-jassin","tag-pelatihan","tag-penyuntingan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/249","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=249"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/249\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=249"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=249"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=249"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}