{"id":529,"date":"2012-09-09T10:40:23","date_gmt":"2012-09-09T03:40:23","guid":{"rendered":"http:\/\/www.hpi.or.id\/?p=529"},"modified":"2012-09-09T10:40:23","modified_gmt":"2012-09-09T03:40:23","slug":"lapanta-temu-hpi-kompk-komda-jabar-interpreting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/lapanta-temu-hpi-kompk-komda-jabar-interpreting\/","title":{"rendered":"Lapanta Temu HPI Komp@k Komda Jabar: Interpreting"},"content":{"rendered":"<p align=\"center\"><strong>I<\/strong><strong>nterpreting: The Job, The Challenges, The Opportunities<\/strong><\/p>\n<p align=\"center\"><strong>Lapanta Temu Komp@k HPI Komda Jabar<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p id=\"yui_3_2_0_1_1347405538339299\">Acara Temu Kompak HPI\u00a0Komda\u00a0Jabar\u00a0kali ini\u00a0dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2012\u00a0dengan\u00a0mengangkat tema mengenai\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0atau\u00a0penjurubahasaan. Adapun hal\u2013hal yang menjadi pembahasan\u00a0adalah\u00a0pekerjaan sebagai juru bahasa, tantangan yang dihadapi serta\u00a0kesempatan yang tersedia bagi\u00a0seorang juru bahasa. Acara ini dihadiri oleh\u00a0pengurus HPI Pusat,\u00a0yaitu Bpk. Eddie R. Notowidigdo (Ketua\u00a0Umum)\u00a0dan\u00a0Ibu Anna\u00a0Wiksmadhara\u00a0(Sekretaris). Peserta berjumlah 51 orang, sebagian datang dari luar kota, misalnya\u00a0Sriati\u00a0Sumowidagdo, anggota HPI yang khusus datang dari Purwokerto (Jateng)\u00a0, Laksmi\u00a0Naomi\u00a0(Yogyakarta),Griselda\u00a0Raisa (Bogor), sedangkan peserta lainnya kebanyakan berasal dari Bandung dan sekitarnya.<\/p>\n<p>Acara dibuka oleh MC, yaitu Betty Sihombing, dengan ucapan selamat Idul Fitri serta selamat datang kepada para hadirin. Setelah sambutan singkat dari ketua HPI Komda Jabar, Lanny Utoyo\u00a0 dan Bpk. Eddie R. Notowidigdo, Ketua Umum HPI, acara langsung masuk ke intinya, yaitu gelar wicara seputar penjurubahasaan, dipandu oleh moderator yang juga seorang\u00a0<em>interpreter<\/em>, Fajar Perdana.\u00a0 Narasumber pertama yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara adalah Susi Septaviana, pengajar Interpreting di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).\u00a0Sebagai pembicara pertama, Susi Septaviana\u00a0 menyampaikan\u00a0sekilas beberapa konsep dasar dalam<em>interpreting<\/em>, baik dari sudut pandang teori maupun praktik. Dalam paparannya, Susi juga menyampaikan bahwa minat mahasiswa terhadap bidang ini\u00a0baru sebatas keinginan semata untuk menjadi seorang juru bahasa atau karena mengikuti keinginan dari orang tua, sedangkan penguasaan bahasa asing masih dalam tahap belajar.\u00a0Padahal, kemampuan berbahasa,\u00a0baik bahasa\u00a0sumber\u00a0maupun bahasatarget, merupakan hal penting yang harus\u00a0sudah dimiliki ketika ingin belajar\u00a0<em>interpreting<\/em>.\u00a0Ini sesuatu yang\u00a0mutlak dan seharusnya sudah tidak perlu\u00a0dibelajarkan\u00a0lagi\u00a0di kelas\u00a0<em>interpreting<\/em>.\u00a0Hal yang jadi tantangan dalam\u00a0pembelajaran\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0kepada mahasiswa adalah menggabungkan teori dan praktik.\u00a0Aktivitas\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0berlangsung secara\u00a0<em>real time<\/em>\u00a0(sekali kita sudah mengucapkannya, kata-kata kita\u00a0tidak dapat\u00a0ditarik\u00a0kembali),\u00a0maka seorang\u00a0<em>interpreter<\/em>\u00a0sebaiknya belajar\u00a0<em>how to let go<\/em>\u00a0(bagaimana caranya melupakan\u00a0apa yang sudah dikatakan).\u00a0Walaupun dalam kondisi sepersekian detik, seorang juru bahasa dituntut untuk sigap dan tanggap. Untuk mengakalinya, ketika juru bahasa mendengarkan satu rangkaian kalimat,\u00a0lalu ada jeda sekian detik sebelum menerjemahkan kalimat selanjutnya,\u00a0saat\u00a0jeda\u00a0itu\u00a0digunakan\u00a0untuk\u00a0pencatatan (<em>note taking<\/em>).<\/p>\n<p>Secara umum ada tiga moda\u00a0kerja\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0yang bisa dipilih yaitu\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em><em>,<\/em><em>\u00a0 consecutive interpreting<\/em><em>\u00a0<\/em>dan<em>sight translation<\/em>.\u00a0\u00a0Keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0adalah\u00a0<em>language\/translation, note taking, delivery (public speaking)<\/em>. Khusus untuk\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em>, juga dibutuhkan\u00a0<em>team work<\/em>, khususnya dengan rekan sesama\u00a0<em>interpreter<\/em>.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>, kita melakukan\u00a0<em>note taking<\/em>\u00a0yang berfungsi untuk membantu seorang juru bahasa dalam mengingat topik dan isi pembicaraan serta membantu dalam menyusun rangkaian kalimat untuk disampaikan kembali\u00a0<em>(delivery).<\/em>\u00a0Posisi seorang juru bahasa yaitu\u00a0<em>\u201cbeing invi<\/em><em>s<\/em><em>ible of the speaker\u201d.<\/em>\u00a0Juru bahasa harus mengerti posisi dan tanggung jawab pekerjaannya.\u00a0Bila\u00a0seorang juru bahasa\u00a0masih\u00a0memiliki perasaan\u00a0harus tampil dan ingin menonjol, ini berarti\u00a0melanggar kode etik.\u00a0Informasi apa\u00a0pun yang didengar, diterjemahkan lalu disampaikan kembali oleh juru bahasa tidak boleh disampaikan lagi kepada pihak luar karena itu bukan merupakan kewenangan dari seorang juru bahasa.\u00a0Untuk menghasilkan kualitas pekerjaan\u00a0<em>interpreting<\/em>\u00a0yang\u00a0bagus,\u00a0seorang juru bahasa perlu memperhatikan aspek\u00a0<em>fidelity (completeness and accuracy), vocabulary, structure\/naturalness, background knowledge.<\/em><\/p>\n<p>Perbedaan dasar antara seorang penerjemah dan juru bahasa terletak pada daya ingat (memori). Untuk moda\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em>\u00a0bergantung pada memori jangka pendek,\u00a0sedangkan untuk\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>\u00a0bergantung pada memori jangka pendek dan jangka panjang.<\/p>\n<p>Salah satu tantangan yang bisa terjadi pada saat\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>\u00a0adalah\u00a0ketika narasumber berbicara terlalu cepat sehingga juru bahasa hanya bisa menangkap satu atau dua kata saja sambil mengira-ngira arti dari kalimat yang dibacakan. Selain itu, kita tidak dapat memilih bidang atau materi yang akan diterjemahkan karena pada dasarnya seorang juru bahasa harus selalu siap untuk menerima materi apa\u00a0pun yang diberikan. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang juru bahasa tidak boleh bertugas lebih dari 2,5 jam dan harus digantikan oleh rekan lainnya. Bila beban pekerjaan seorang juru bahasa terlalu lama dan berat maka akan mempengaruhi tingkat keakuratannya dalam menyampaikan pesan pembicara. Sebaiknya penjurubahasaan dilakukan oleh\u00a0dua\u00a0orang juru bahasa, sehingga bisa saling mendukung\u00a0dan bergantian. Seorang juru bahasa dapat mengembangkan masa depannya melalui\u00a0<em>networking<\/em>, menjaga kualitas hasil pekerjaan dengan cara terus mengasah kemampuan dan belajar serta menjalin hubungan baik dengan klien sehingga menimbulkan kepercayaan.<del><\/del><\/p>\n<p>Sebagai pembicara kedua adalah Indra Blanquita, salah satu juru bahasa senior\u00a0dari Jakarta. Beliau mengatakan bahwa dalam<em>simultaneous interpreting<\/em><em>,<\/em>\u00a0bila seorang juru bahasa tanpa sengaja melakukan kekeliruan dalam menerjemahkan suatu kata dalam sebuah rangkaian kalimat, tidak perlu menjadi gugup dan ragu tapi tetap melanjutkan proses penjurubahasaan sampai selesai karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu sangat tidak memungkinkan bagi seorang juru bahasa untuk melakukan koreksi. Menurut\u00a0Mbak Indra,\u00a0<em>\u201cthe audience do<\/em><em>es<\/em><em>n\u2019t notice\u201d<\/em>, jadi hal tersebut tidak perlu terlalu dipikirkan karena memang sudah telanjur terjadi. Saat melakukan\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em>\u00a0di dalam\u00a0<em>booth<\/em>,\u00a0satu\u00a0orang juru bahasa sebaiknya bekerja tidak lebih dari 30 menit lalu selanjutnya digantikan oleh rekan yang lain.<\/p>\n<p>Kendala yang biasanya terjadi pada seorang juru bahasa yaitu kondisi \u201cmacet\u201d (<em>stuck\/hang\/blank<\/em>) ketika mendengar sebuah kata atau istilah baru. Untuk mengatasinya, beberapa hari sebelum mulai bekerja bisa meminta materi yang akan menjadi topik pembicaraan atau bila tidak diberikan setidaknya kita bisa mengusahakan untuk mengetahui topik yang nanti akan dibahas lalu\u00a0mencari\u00a0melalui internet atau akan lebih baik lagi bila dapat bertemu dengan narasumber yang nanti akan menjadi pembicara. Tetapi bila sampai pada waktu pelaksanaan ternyata materi atau topik pembicaraan masih belum bisa diperoleh, kita harus tetap bisa mempersiapkan diri untuk menerima dan menghadapi kondisi apa\u00a0pun yang nanti akan terjadi. Istilah yang diberikan\u00a0Mbak Indra,\u00a0<em>\u201cit is us against the world\u201d<\/em>,memang sangat tepat dalam menggambarkan situasi dan kondisi tersebut di\u00a0atas. Tantangan yang dihadapi oleh seorang juru bahasa dalam praktiknya memang jauh lebih sulit karena dituntut untuk bisa menangani dan mengatasi permasalahan yang terkadang timbul pada saat melaksanakan tugas penjurubahasaan, sehingga dibutuhkan mental yang kuat dan tangguh. Satu hal yang penting dan harus diperhatikan dalam melakukan penjurubahasaan adalah alur penerjemahan yang mengalir (<em>flowing<\/em>) dan diusahakan jangan sampai ada jeda yang terlalu panjang antara akhir kalimat pertama sampai masuk pada awal kalimat selanjutnya, karena bila hal ini sampai terjadi dan terulang beberapa kali maka akan menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari\u00a0hadirin\u00a0sehingga juru bahasa tersebut\u00a0bisadianggap kurang kompeten.<\/p>\n<p>Selanjutnya sebagai pembicara ketiga adalah Samuel Siahaan, juru bahasa senior\u00a0dari Jakarta\u00a0yang mengkhususkan diri dalam penjurubahasaan untuk bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Menurut pendapat beliau, penjurubahasaan merupakan sebuah anugerah yang dibawa sejak dilahirkan (<em>gift<\/em>), tetapi bukan berarti bidang penjurubahasaan tidak dapat dipelajari,\u00a0hanya saja kemampuan untuk mencapai kemahiran dan kebiasaan tergantung dari kemauan dan kerja keras. Tantangan dalam penjurubahasaan, seperti\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>, sebaiknya beberapa hari sebelum pelaksanaan sudah mendapatkan materi penunjang dari topik yang nanti akan dibicarakan.\u00a0Persiapan yang matang akan mempengaruhi kualitas dan kredibilitas kita sebagai seorang juru bahasa. Selain itu, seorang juru bahasa juga harus memastikan agar dibayar di\u00a0muka\u00a0minimal\u00a0sebesar 50%\u00a0;\u00a0bila klien tidak dapat memenuhinya lebih baik tidak menerima pekerjaan yang ditawarkan. Keuntungan menjadi seorang juru bahasa adalah bisa ikut di dalam perjalanan atau rombongan tertentu,\u00a0termasuk\u00a0mendapat fasilitas yang baik.<\/p>\n<p>Pembicara keempat adalah Meidy Maringka,\u00a0juru bahasa senior\u00a0dari Surabaya yang\u00a0mengkhususkan diri dalam bidang keagamaan. Menurut beliau,\u00a0dalam melakukan\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em><em>,<\/em>\u00a0kita sebagai juru bahasa bisa mendapat keuntungan yaitu bisa meminta kepada pembicara untuk sedikit mengulangi kembali kata atau kalimat yang terdengar agak kurang jelas diterima dan dimengerti, jadi ada sedikit jeda waktu untuk berpikir dan menyampaikan kembali rangkaian kalimat tersebut. Untuk tantangan yang pernah dihadapi yaitu ketika salah menangkap maksud dari kata yang disampaikan oleh pembicara sehingga menyebabkan salah pengertian pada saat penyampaian kembali. Cara untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi yaitu dengan langsung bertanya kepada pembicara (berani menanggung rasa malu).<\/p>\n<p>Kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta, antara lain Ibu Sofia Mansoor yang menanyakan mengenai konsistensi penggunaan istilah, apakah masih diperbolehkan menggunakan istilah asing atau\u00a0harus\u00a0istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut Mbak Susi Septavania,\u00a0sebaiknya diusahakan untuk tetap konsisten menggunakan istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa target. Pertanyaan lain juga diajukan oleh rekan penerjemah,\u00a0Ricky Zulkifli,\u00a0yang menanyakan bagaimana caranya membagi konsentrasi pada saat\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>.\u00a0Dijawab oleh\u00a0Mbak Indra Blanquita\u00a0bahwa\u00a0hal tersebut dapat dibantu melalui\u00a0<em>note taking<\/em>\u00a0tapi tidak boleh melakukan\u00a0<em>summarize<\/em>;\u00a0cukup menuliskan beberapa kata inti yang sesuai dengan isi pembicaraan dan konsentrasi dalam mendengarkan pembicara, kemudian setelah pembicara selesai berbicara kita langsung menyampaikan kembali dengan dibantu catatan kecil tersebut.<\/p>\n<p>Pertanyaan\u00a0berikutnya diajukan oleh\u00a0Samsu\u00a0Umar, tentang\u00a0cara membagi konsentrasi saat melakukan\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em>agar tidak saling mempengaruhi.\u00a0Dalam jawabannya,\u00a0Mbak Susi Septavania\u00a0mengatakan bahwa\u00a0hal tersebut bisa\u00a0dilatih\u00a0denganmembiasakan pendengaran kita untuk mendengarkan pembicaraan dalam bahasa sumber dan berlatih menerjemahkan secara langsung karena hal tersebut akan mempengaruhi sistim kerja otak kita yang nanti akan secara otomatis bisa memisahkan cara berkonsentrasi dan mengingat kata atau kalimat yang diucapkan.<\/p>\n<p>Setelah sesi tanya-jawab, acara dilanjutkan dengan demo\u00a0<em>simultaneous d<\/em>an\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>\u00a0yang diperagakan oleh\u00a0Mbak Indra Blanquita. Dalam demo tersebut diperlihatkan perbedaan mendasar dalam melakukan\u00a0<em>simultaneous d<\/em>an\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>. Untuk\u00a0<em>simultaneous interpreting<\/em>, mengutip istilah dari\u00a0Mbak Indra,\u00a0<em>\u201cmenempel lebih mesra dari pasangan sendiri\u201d<\/em>, diperlihatkan bahwa seorang juru bahasa harus terus berkonsentrasi dalam mendengarkan setiap kata dan kalimat yang diucapkan oleh pembicara karena bila tertinggal beberapa detik maka hal itu dapat menyebabkan timbulnya perbedaan makna sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak tepat sasaran. Untuk\u00a0<em>consecutive interpreting<\/em>, seorang juru bahasa melakukan\u00a0<em>note taking<\/em>\u00a0dengan berkonsentrasi mendengarkan dan memperhatikan pembicara, lalu ketika pembicara selesai maka juru bahasa langsung menyampaikan isi dari kalimat tersebut ke dalam bahasa target. Diusahakan jangan sampai ada kata atau kalimat yang terlewat.<\/p>\n<p>Acara diskusi dan tanya-jawab tersebut diakhiri dengan pemberian hadiah kepada peserta yang dianggap telah mengajukan pertanyaan terbaik, dan hadiah jatuh kepada rekan Ricky Zulkifli berupa\u00a0satu set buku yang terdiri atas buku Bahtera 1 dan 2 (Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna) serta Pedoman Bagi Penerjemah karya Rochayah Machali. Hadiah juga diberikan kepada dua orang peserta yang sudah berani tampil untuk mencoba melakukan penjurubahasaan dari video yang sengaja dipilih dari Youtube.<\/p>\n<p>Acara\u00a0dilanjutkan dengan\u00a0perayaan singkat peringatan setahun\u00a0berdirinya HPI\u00a0Komda\u00a0Jabar\u00a0yang ditandai dengan pemotongan kue dengan lilin angka 1. Sebenarnya ulang tahun pertama HPI Komda Jabar jatuh pada\u00a0pada tanggal 23 Juli 2012,\u00a0\u00a0tetapi baru\u201cdirayakan\u201d\u00a0pada hari ini, karena tanggal tersebut bertepatan dengan bulan puasa. Pemotongan kue dilakukan oleh Ketua HPI\u00a0KomdaJabar, Lanny Utoyo,\u00a0\u00a0lalu potongan pertama diserahkan kepada Ketua HPI Pusat. Potongan kedua\u00a0kepada Sekretaris HPI Pusat,\u00a0dan\u00a0yang ketiga\u00a0kepada Ibu Sofia Mansoor, penasihat Komda Jabar. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan dari HPI KomdaJabar kepada para\u00a0narasumber dan moderator.\u00a0Tidak lupa tentunya,\u00a0acara foto bersama, yang tidak dilewatkan oleh semua peserta dan pengurus.\u00a0Makan siang\u00a0dengan menu nasi timbel komplit dan sayur asem melengkapi temu Komp@k kali ini, sekaligus menjadi mata acara terakhir.<\/p>\n<p>Sungguh acara\u00a0ini memberikan informasi dan ilmu yang\u00a0sangat\u00a0bermanfaat bagi semua\u00a0peserta, selain untuk mempererat tali silaturahmi dengan sesama rekan penerjemah dan\/atau juru bahasa.\u00a0Semoga acara hari ini mendapatkan tanggapan positif dan ditindaklanjuti dengan melaksanakan pelatihan penjurubahasaan secara berkesinambungan,\u00a0yang pada akhirnya bisa menghasilkan juru bahasa generasi baru yang kompeten dalam bidang ini. Aamiin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Catatan<\/strong>: pelatihan rencananya akan diadakan pada tanggal 1 Desember 2012 , dengan didahului seleksi calon peserta pelatihan (dibatasi hanya 15 orang) satu atau dua minggu sebelumnya.<\/p>\n<p>Bandung, 9 September 2012<\/p>\n<p id=\"yui_3_2_0_1_1347405538339302\">Tim Lapanta HPI Komda Jabar<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Interpreting: The Job, The Challenges, The Opportunities Lapanta Temu Komp@k HPI Komda Jabar \u00a0 Acara Temu Kompak HPI\u00a0Komda\u00a0Jabar\u00a0kali ini\u00a0dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2012\u00a0dengan\u00a0mengangkat tema mengenai\u00a0interpreting\u00a0atau\u00a0penjurubahasaan. Adapun hal\u2013hal&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-529","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lapanta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=529"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/529\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hpi.or.id\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}