Lapanta HPI Komp@k 1 September 2012

HPI MEMECAH REKOR

Acara Temu Komp@k pada tanggal 1 September 2012 mengangkat topik “Kolaborasi dengan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) untuk Mengakomodasi Kebutuhan Penerjemah Buku” dan menampilkan dua pembicara, yaitu Ibu Nova Rasdiana (IKAPI) dan Mbak Eliza Handayani (Pemrakarsa Pusat Penerjemahan Sastra). Acara yang sekaligus Halal Bihalal HPI ini telah memecah berbagai rekor HPI.

Rekor pertama yang dipecahkan adalah jumlah peserta yang mencapai 109 peserta!! Pemecahan rekor kedua adalah karena jumlah peserta yang begitu banyak, jenis kursi pun menjadi 4 macam menurut seorang pakar penghitung kursi yang tidak bersedia disebutkan namanya. Rekor ketiga yang pecah adalah jumlah kudapan yang mencapai delapan macam pada pukul 08.00 WIB lalu rekor itu dipecahkan oleh warga HPI sendiri yaitu Ibu Sofia Mansoor yang membawa cheese stick, dan Bapak Roudi Hendarto dengan dua macam lunpia khas Semarang pada pukul 10.00.

Rekor keempat adalah penulis lapanta untuk acara ini, tidak tanggung-tanggung, 3 orang: Dina Begum, Mila Kartina & Sofia Sari (DiFi)!

Pembicara pertama, Ibu Nova, menjelaskan tentang “Kerjasama HPI dan IKAPI dalam mempromosikan buku Indonesia di Frankfurt Book Fair (FBF) tahun 2015.” Menurut beliau, FBF yang telah diikuti IKAPI sejak tahun 1987 ini tidak saja mengundang berbagai negara/penerbit yang memamerkan buku, tapi juga memberi ruang bagi industri digital, teknologi informasi, sektor film, industri seni dan kreatif, kultural, dan lain sebagainya untuk berpameran di ajang bergengsi itu.

Selain itu, beliau juga memaparkan Indonesia yang menjadi Guest of Honour pada tahun 2015, bertepatan dengan peringatan 70 tahun kemerdekaan RI. Hanya ada 1 negara yang bisa menjadi Guest of Honor di setiap penyelenggaraan pesta buku ini. Sebagai Guest of Honour di penyelenggaraan tahun 2015, negara kita mendapatkan berbagai keistimewaan, di antaranya pajanan internasional karena menjadi primadona dalam liputan media. Pajanan ini tidak hanya dalam bidang industri penerbitan saja, melainkan hampir semua aspek karena peserta pameran bukan hanya penerbit, agen naskah, dan percetakan, melainkan juga pelaku industri lain yang terkait, seperti film, komputer, dan teknologi informasi, termasuk pernak-pernik kaki lima.

Menurut  Ibu Nova, FBF yang biasa dilaksanakan selama 5 hari ini  merupakan acara yang diliput oleh berbagai media massa Jerman dan internasional. Tak kurang dari stasiun TV dan radio, koran, serta majalah di Jerman ikut meliput acara bergengsi ini. Ini tentu juga merupakan sarana publikasi dan promosi yang baik sekali. Selama ini, sebagian besar kehadiran penerbit Indonesia di FBF adalah untuk membeli copyright buku-buku berbahasa asing untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudain menerbitkannya Indonesia.   Peran sebagai GoH di tahun 2015 ini merupakan terobosan baru IKAPI untuk memperkanalkan dan memasarkan buku-buku baru Indonesia di luar negeri.  “Ikapi goes international!”

Selagi para peserta mulai bertanya-tanya apa hubungannya dengan dunia penerjemahan, Ibu Nova menuturkan bahwa untuk menjadi GoH tentu ada syaratnya yaitu harus memamerkan 1500 judul buku dan 200 di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.  Selain itu, kita juga bisa memamerkan buku-buku indonesia baru dalam bahasa asing lainnya.  Tidak perlu untuk menerjemahkan seluruh buku, melainkan cukup dibuatkan sinopsisnya dalam bahasa Jerman/asing lainnya yang akan dimuat dalam katalog pameran. Dari tahun ke tahun, buku-buku yang menarik minat di Frankfurt Book Fair di antaranya adalah novel, buku anak, sastra, komik, buku masakan dan buku teks. Di stand Indonesia sendiri, pengunjung biasanya mencari buku anak-anak, buku-buku islam atau bernuansa Islam, peta Indonesia, serta buku bertema budaya.

Sampai saat ini penerbitan buku berbahasa asing masih berupa inisiatif masing-masing penerbit. Dan kebanyakan, itu merupakan proyek terjemahan buku berbahasa asing (terutama Inggris) ke bahasa Indonesia. Padahal di FBF, peluang untuk memamerkan sekaligus memasarkan buku karya penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Inggris sangat besar. Tentu saja ini merupakan tantangan bagi kita sebagai penerjemah yang sepatutnya kita sambut.

Untuk memenuhi kebutuhan penerjemahan buku berbahasa Indonesia ke bahasa asing itu, IKAPI berencana membuat wadah berupa database penerjemah di situs webnya, lengkap dengan subyek dan pasangan bahasa yang dikuasai masing-masing penerjemah beserta informasi kontak yang dapat dihubungi. IKAPI juga menyatakan ingin merangkul HPI untuk turut meramaikan perhelatan akbar yang belum ada tandingannya ini. Tawaran ini tentu menggiurkan. Karena sebagai penerjemah kita mendapat peluang untuk menerjemahkan buku karya penulis Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan Jerman sekaligus mendapat peluang mempromosikan penerjemah Indonesia itu sendiri. Germany, anyone?

Pembicara kedua adalah Mbak Eliza Handayani sebagai pemrakarsa pendirian Pusat Penerjemahan Sastra, yang menjadi semacam ruang bertemunya berbagai unsur penerjemahan sastra. Mbak Eliza menjelaskan berbagai hal tentang penerjemahan sastra. Menurut beliau, seorang penerjemah sastra haruslah memiliki ketrampilan menulis agar dia bisa menyampaikan niat penulis atau gaya kepenulisan  dalam buku yang diterjemahkannya secara berjiwa. Namun, dalam menjalankan tugasnya ini, penerjemah sastra seringkali menghadapi beberapa tantangan, antara lain masih kurangnya keahlian (baik keahlian menerjemahkan maupun menulis), buku yang diterjemahkan adalah buku berbahasa Inggris yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa asing lain, serta ketiadaan akses penerjemah kepada penulis buku dan kurangnya komunikasi antara editor dengan penerjemah yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Hal lain yang cukup mengejutkan adalah penjelasan Mbak Eliza bahwa buku terjemahan di pasaran laris bukan karena hasil terjemahan, tapi lebih karena profil penulis buku itu (yang biasanya sudah terkenal) dan bagaimana tampilan buku itu.  Sampai di sini saya terhenyak. Mengapa peran penerjemah sepertinya begitu kecil dalam proses terbitnya sebuah buku terjemahan? Apakah kita perlu membuat penerjemah menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan oleh pembeli sebelum membeli buku?

Selain itu, Mbak Eliza juga mengungkapkan keprihatinan akan belum adanya hak cipta untuk penerjemah. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa penerjemah pun selayaknya mendapatkan penghargaan sebagaimana penghargaan yang diberikan kepada penulis antara lain dengan mendapatkan royalti atas penjualan buku yang diterjemahkan.

Jadi, penerjemah buku yang tidak menguasai penerjemahan bahasa indonesia ke bahasa asing tidak perlu berkecil hati. Pemaparan Mbak Eliza tentang inisiatif pembentukan Pusat Penerjemahan Sastra sungguh bagaikan angin segar di siang hari musim kemarau yang panas. Pusat Penerjemahan Sastra ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penerjemahan sastra di Indonesia, yaitu dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karya sastra dari manca negara, mulai dari karya klasik, modern, sampai kontemporer, dan berinisiatif mengatasi kendala-kendala utama bagi penerjemahan sastra di Indonesia. Langkah pertama dari inisiatif ini adalah mengadakan lokarya penerjemahan sastra  dan seminar yang berjudul “TOWARDS AN INDONESIAN LITERARY TRANSLATION CENTER.”

Acara pertemuan ini dihadiri tidak saja dari kalangan penerjemah, melainkan juga dari penerbit dan akademisi (Universitas Terbuka).  Diskusi hangat mewarnai gelar wicara. Seperti biasa, acara Komp@k HPI kali ini ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pembicara dari Ketua HPI Bapak Eddie Notowidigdo kepada kedua pembicara. Ada yang istimewa dalam penyerahan kenang-kenangan kali ini. Karena di samping memberikan bingkisan, Pak Eddie juga memberikan CD berisi CV para penerjemah yang mengikuti acara hari ini kepada Ibu Nova dan Mbak Eliza. Kiranya, semua peserta berdoa dalam hati saat Pak Eddie memberikan CD itu, agar suatu hari nanti, dirinya dihubungi oleh Bu Nova atau Mbak Eliza untuk mengerjakan proyek terjemahan bersama mereka. Aamiin…

Selain itu, kenang-kenangan juga diberikan kepada Mbak Dita Wibisono,  sosok yang selama ini menjadi tokoh di balik layar penyelenggaraan HPI Komp@k. Terima kasih banyak untuk dedikasi Anda selama ini, Mbak Dita.

Acara kumpul HPI tanpa makanan enak itu seperti minum air es tanpa es. Rekor kelima yang dicapai hari ini adalah jumlah makanan enak yang membentang di dua meja berbentuk huruf L. Dari Soto Bandung, ayam kacang polong, gurame asem manis, bistik lidah, macaroni schottel, soun goreng, huzaren sla plus rujak mangga serta puding coklat yang hoaaaaa benar-benar enak.

Sambil menikmati makan siang, para narcis tak henti-hentinya mengumbar gaya, karena juru foto kali ini pun memecahkan rekor keenam, ada 5 juru foto yang bertugas pada acara ini, Bapak Roudi Hendarto (spesialis foto propic FB dan BB), Arfan Achyar (spesialis foto candid yang hmmmm), Ijul Baso (spesialis foto cantik), Indriastuti Salim (spesialis foto candid cantik) dan Lucia Aryani (sang mamarazzi). Ketika datang pun peserta sudah disambut juru foto entah dari mana, serasa jalan di karpet merah. Ketika pulang foto bisa diambil di juru foto cabutan dari antah berantah yang pastinya bukan anggota HPI.

Acara makan-makan pun diramaikan oleh kesibukan para peserta yang berbelanja berbagai cendera mata HPI dan Bahtera. Mulai dari kaos, payung, stiker, sampai buku Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna yang ditulis oleh para penerjemah yang tergabung dalam Bahtera.

Tawa dan sapa seperti tidak pernah selesai, ketika muka lapar sudah berganti muka senang karena kenyang, saatnya foto bersama. Daaaannn… rekor ketujuh pun pecah. Mendadak para peserta mengeluarkan kamera masing-masing hingga ada kurang lebih sepuluh kamera tergeletak di meja, sampai-sampai Bu Lurah FB-HPI yang biasa di foto, menyatakan menolak mentah-mentah bila ada tawaran menjadi foto model.

Hati ini terasa hangat bertemu teman-teman yang di mata jauh, di hati dekat; perut mengalunkan simfoni indah setelah dibelai makanan nikmat; foto-foto pun cantik. Indahnya berbagi… Sampai jumpa lagi teman-teman….

DiFi, Dina, Mila

 

Posted in:
About the Author

Dina Begum

Pengurus HPI Bidang Infotek

17 Comments

  1. Terima kasih atas ulasan kegiatan kemarin; terima kasih pula memberikan link pada situs Inisiatifpenerjemahansastra.org. Saya senang jadi bagian acara Temu Komp@k HPI yang memecah rekor.

    Namun ada dua hal dalam tulisan di atas yang mesti saya koreksi: 1) Saya tidak menggunakan frase “pesan penulis”, tetapi “niat penulis” atau “gaya kepenulisan.” Ini penting dibedakan sebab dalam karya sastra yang baik, justru tidak ada “pesan” yang gamblang atau hitam-putih. 2) Memang seminar akan dihadiri perwakilan dari berbagai universitas di dalam maupun luar negeri, namun kami belum mengundang atau bekerjasama dengan Universitas Terbuka. Jika ada kesempatan untuk bekerjasama, tentu kami terbuka untuk mendiskusikannya. Mohon hubungi saya di evh.iclit@yahoo.com. Terima kasih.

  2. Ups, maaf, rupanya saya yang kurang teliti membaca. Rupanya “Acara ini” pada paragraf “Acara ini dihadiri tidak saja dari kalangan penerjemah, melainkan juga dari penerbit dan akademisi (Universitas Terbuka)…” sudah tidak mengacu pada seminar Oktober nanti, melainkan pada acara Temu HPI sendiri. Mohon maaf. Dan kalau begitu cukup ralat satu hal saja (nomor 1) di atas.

  3. Mbak Difi, Dini, Mila….. cihui banget deh Lapantanya. Semakin piawai kelihatannya untuk menuliskan lapanta yang menarik, penuh greget dan hidup.
    Ditunggu lapanta-lapanta berikutnya yaa!

  4. Huaaaa… nggak bisa dateng, lagi ada urusan bocah-bocah.
    Terima kasih banyak buat laporannya! Seandainya ikut hadir. Hiks.
    Maju terus HPI!

  5. Oke banget lapanta trio Mbak Difi, Dina dan Mila! Juga baru tahu kalau ada rujak mangga & puding coklat yang terlewat saking asiknya ngobrol…:)

  6. Dia hanyalah temanku – seorang supir yang mengantarkanku ke TKP-, akibat kakikananku yang belum berimbang dan masih “lemot”. Temanku ini membantuku berjalan sampai masuk gedung. Begitu pulang para juru foto “berbayar” menanyaiku, “Pak, teman penerjemah yang ada di samping bapak tadi mana ya?, ini fotonya sudah jadi, Rp 75.000,- saja pak”. Saya bilang, “Waduh, dia itu penerjemah tamu pak, sudah pulang dari tadi, karena ada keperluan lain.” Memang inilah gaya penampilan para penerjemah “senior” sekalipun. “Low profile, high product” – baca: tampang bagai seorang supir, ilmu jangan ditanya. Temu2 selanjutnya?? “Booking duluan kalau bisa.”

  7. Wah, baru baca lapanta ini… ^_^
    Terima kasih banyak atas kesediaan berkolaborasi menulis lapanta ini, Tante-tante (DiFi, Dina & Mila) ^_^
    Apalagi pake bonus namaku disebut ^____^

  8. Menarik. Dulu rasanya pernah kontakan dh HPI … tapi …gak ada lanjutan apa-apa. Syukurlah HPI anggota kian banyak. Alamat kini di mana nih.

Silakan Komentar Anda