Lapanta Temu HPI Komp@k Komda Jabar: Interpreting

Interpreting: The Job, The Challenges, The Opportunities

Lapanta Temu Komp@k HPI Komda Jabar

 

Acara Temu Kompak HPI Komda Jabar kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2012 dengan mengangkat tema mengenai interpreting atau penjurubahasaan. Adapun hal–hal yang menjadi pembahasan adalah pekerjaan sebagai juru bahasa, tantangan yang dihadapi serta kesempatan yang tersedia bagi seorang juru bahasa. Acara ini dihadiri oleh pengurus HPI Pusat, yaitu Bpk. Eddie R. Notowidigdo (Ketua Umum) dan Ibu Anna Wiksmadhara (Sekretaris). Peserta berjumlah 51 orang, sebagian datang dari luar kota, misalnya Sriati Sumowidagdo, anggota HPI yang khusus datang dari Purwokerto (Jateng) , Laksmi Naomi (Yogyakarta),Griselda Raisa (Bogor), sedangkan peserta lainnya kebanyakan berasal dari Bandung dan sekitarnya.

Acara dibuka oleh MC, yaitu Betty Sihombing, dengan ucapan selamat Idul Fitri serta selamat datang kepada para hadirin. Setelah sambutan singkat dari ketua HPI Komda Jabar, Lanny Utoyo  dan Bpk. Eddie R. Notowidigdo, Ketua Umum HPI, acara langsung masuk ke intinya, yaitu gelar wicara seputar penjurubahasaan, dipandu oleh moderator yang juga seorang interpreter, Fajar Perdana.  Narasumber pertama yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara adalah Susi Septaviana, pengajar Interpreting di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sebagai pembicara pertama, Susi Septaviana  menyampaikan sekilas beberapa konsep dasar dalaminterpreting, baik dari sudut pandang teori maupun praktik. Dalam paparannya, Susi juga menyampaikan bahwa minat mahasiswa terhadap bidang ini baru sebatas keinginan semata untuk menjadi seorang juru bahasa atau karena mengikuti keinginan dari orang tua, sedangkan penguasaan bahasa asing masih dalam tahap belajar. Padahal, kemampuan berbahasa, baik bahasa sumber maupun bahasatarget, merupakan hal penting yang harus sudah dimiliki ketika ingin belajar interpreting. Ini sesuatu yang mutlak dan seharusnya sudah tidak perlu dibelajarkan lagi di kelas interpreting. Hal yang jadi tantangan dalam pembelajaran interpreting kepada mahasiswa adalah menggabungkan teori dan praktik. Aktivitas interpreting berlangsung secara real time (sekali kita sudah mengucapkannya, kata-kata kita tidak dapat ditarik kembali), maka seorang interpreter sebaiknya belajar how to let go (bagaimana caranya melupakan apa yang sudah dikatakan). Walaupun dalam kondisi sepersekian detik, seorang juru bahasa dituntut untuk sigap dan tanggap. Untuk mengakalinya, ketika juru bahasa mendengarkan satu rangkaian kalimat, lalu ada jeda sekian detik sebelum menerjemahkan kalimat selanjutnya, saat jeda itu digunakan untuk pencatatan (note taking).

Secara umum ada tiga moda kerja interpreting yang bisa dipilih yaitu simultaneous interpreting,  consecutive interpreting dansight translation.  Keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan interpreting adalah language/translation, note taking, delivery (public speaking). Khusus untuk simultaneous interpreting, juga dibutuhkan team work, khususnya dengan rekan sesama interpreter.

Dalam consecutive interpreting, kita melakukan note taking yang berfungsi untuk membantu seorang juru bahasa dalam mengingat topik dan isi pembicaraan serta membantu dalam menyusun rangkaian kalimat untuk disampaikan kembali (delivery). Posisi seorang juru bahasa yaitu “being invisible of the speaker”. Juru bahasa harus mengerti posisi dan tanggung jawab pekerjaannya. Bila seorang juru bahasa masih memiliki perasaan harus tampil dan ingin menonjol, ini berarti melanggar kode etik. Informasi apa pun yang didengar, diterjemahkan lalu disampaikan kembali oleh juru bahasa tidak boleh disampaikan lagi kepada pihak luar karena itu bukan merupakan kewenangan dari seorang juru bahasa. Untuk menghasilkan kualitas pekerjaan interpreting yang bagus, seorang juru bahasa perlu memperhatikan aspek fidelity (completeness and accuracy), vocabulary, structure/naturalness, background knowledge.

Perbedaan dasar antara seorang penerjemah dan juru bahasa terletak pada daya ingat (memori). Untuk moda simultaneous interpreting bergantung pada memori jangka pendek, sedangkan untuk consecutive interpreting bergantung pada memori jangka pendek dan jangka panjang.

Salah satu tantangan yang bisa terjadi pada saat consecutive interpreting adalah ketika narasumber berbicara terlalu cepat sehingga juru bahasa hanya bisa menangkap satu atau dua kata saja sambil mengira-ngira arti dari kalimat yang dibacakan. Selain itu, kita tidak dapat memilih bidang atau materi yang akan diterjemahkan karena pada dasarnya seorang juru bahasa harus selalu siap untuk menerima materi apa pun yang diberikan. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang juru bahasa tidak boleh bertugas lebih dari 2,5 jam dan harus digantikan oleh rekan lainnya. Bila beban pekerjaan seorang juru bahasa terlalu lama dan berat maka akan mempengaruhi tingkat keakuratannya dalam menyampaikan pesan pembicara. Sebaiknya penjurubahasaan dilakukan oleh dua orang juru bahasa, sehingga bisa saling mendukung dan bergantian. Seorang juru bahasa dapat mengembangkan masa depannya melalui networking, menjaga kualitas hasil pekerjaan dengan cara terus mengasah kemampuan dan belajar serta menjalin hubungan baik dengan klien sehingga menimbulkan kepercayaan.

Sebagai pembicara kedua adalah Indra Blanquita, salah satu juru bahasa senior dari Jakarta. Beliau mengatakan bahwa dalamsimultaneous interpreting, bila seorang juru bahasa tanpa sengaja melakukan kekeliruan dalam menerjemahkan suatu kata dalam sebuah rangkaian kalimat, tidak perlu menjadi gugup dan ragu tapi tetap melanjutkan proses penjurubahasaan sampai selesai karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu sangat tidak memungkinkan bagi seorang juru bahasa untuk melakukan koreksi. Menurut Mbak Indra, “the audience doesn’t notice”, jadi hal tersebut tidak perlu terlalu dipikirkan karena memang sudah telanjur terjadi. Saat melakukan simultaneous interpreting di dalam booth, satu orang juru bahasa sebaiknya bekerja tidak lebih dari 30 menit lalu selanjutnya digantikan oleh rekan yang lain.

Kendala yang biasanya terjadi pada seorang juru bahasa yaitu kondisi “macet” (stuck/hang/blank) ketika mendengar sebuah kata atau istilah baru. Untuk mengatasinya, beberapa hari sebelum mulai bekerja bisa meminta materi yang akan menjadi topik pembicaraan atau bila tidak diberikan setidaknya kita bisa mengusahakan untuk mengetahui topik yang nanti akan dibahas lalu mencari melalui internet atau akan lebih baik lagi bila dapat bertemu dengan narasumber yang nanti akan menjadi pembicara. Tetapi bila sampai pada waktu pelaksanaan ternyata materi atau topik pembicaraan masih belum bisa diperoleh, kita harus tetap bisa mempersiapkan diri untuk menerima dan menghadapi kondisi apa pun yang nanti akan terjadi. Istilah yang diberikan Mbak Indra, “it is us against the world”,memang sangat tepat dalam menggambarkan situasi dan kondisi tersebut di atas. Tantangan yang dihadapi oleh seorang juru bahasa dalam praktiknya memang jauh lebih sulit karena dituntut untuk bisa menangani dan mengatasi permasalahan yang terkadang timbul pada saat melaksanakan tugas penjurubahasaan, sehingga dibutuhkan mental yang kuat dan tangguh. Satu hal yang penting dan harus diperhatikan dalam melakukan penjurubahasaan adalah alur penerjemahan yang mengalir (flowing) dan diusahakan jangan sampai ada jeda yang terlalu panjang antara akhir kalimat pertama sampai masuk pada awal kalimat selanjutnya, karena bila hal ini sampai terjadi dan terulang beberapa kali maka akan menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari hadirin sehingga juru bahasa tersebut bisadianggap kurang kompeten.

Selanjutnya sebagai pembicara ketiga adalah Samuel Siahaan, juru bahasa senior dari Jakarta yang mengkhususkan diri dalam penjurubahasaan untuk bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Menurut pendapat beliau, penjurubahasaan merupakan sebuah anugerah yang dibawa sejak dilahirkan (gift), tetapi bukan berarti bidang penjurubahasaan tidak dapat dipelajari, hanya saja kemampuan untuk mencapai kemahiran dan kebiasaan tergantung dari kemauan dan kerja keras. Tantangan dalam penjurubahasaan, seperti consecutive interpreting, sebaiknya beberapa hari sebelum pelaksanaan sudah mendapatkan materi penunjang dari topik yang nanti akan dibicarakan. Persiapan yang matang akan mempengaruhi kualitas dan kredibilitas kita sebagai seorang juru bahasa. Selain itu, seorang juru bahasa juga harus memastikan agar dibayar di muka minimal sebesar 50% ; bila klien tidak dapat memenuhinya lebih baik tidak menerima pekerjaan yang ditawarkan. Keuntungan menjadi seorang juru bahasa adalah bisa ikut di dalam perjalanan atau rombongan tertentu, termasuk mendapat fasilitas yang baik.

Pembicara keempat adalah Meidy Maringka, juru bahasa senior dari Surabaya yang mengkhususkan diri dalam bidang keagamaan. Menurut beliau, dalam melakukan consecutive interpreting, kita sebagai juru bahasa bisa mendapat keuntungan yaitu bisa meminta kepada pembicara untuk sedikit mengulangi kembali kata atau kalimat yang terdengar agak kurang jelas diterima dan dimengerti, jadi ada sedikit jeda waktu untuk berpikir dan menyampaikan kembali rangkaian kalimat tersebut. Untuk tantangan yang pernah dihadapi yaitu ketika salah menangkap maksud dari kata yang disampaikan oleh pembicara sehingga menyebabkan salah pengertian pada saat penyampaian kembali. Cara untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi yaitu dengan langsung bertanya kepada pembicara (berani menanggung rasa malu).

Kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta, antara lain Ibu Sofia Mansoor yang menanyakan mengenai konsistensi penggunaan istilah, apakah masih diperbolehkan menggunakan istilah asing atau harus istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut Mbak Susi Septavania, sebaiknya diusahakan untuk tetap konsisten menggunakan istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa target. Pertanyaan lain juga diajukan oleh rekan penerjemah, Ricky Zulkifli, yang menanyakan bagaimana caranya membagi konsentrasi pada saat consecutive interpreting. Dijawab oleh Mbak Indra Blanquita bahwa hal tersebut dapat dibantu melalui note taking tapi tidak boleh melakukan summarize; cukup menuliskan beberapa kata inti yang sesuai dengan isi pembicaraan dan konsentrasi dalam mendengarkan pembicara, kemudian setelah pembicara selesai berbicara kita langsung menyampaikan kembali dengan dibantu catatan kecil tersebut.

Pertanyaan berikutnya diajukan oleh Samsu Umar, tentang cara membagi konsentrasi saat melakukan simultaneous interpretingagar tidak saling mempengaruhi. Dalam jawabannya, Mbak Susi Septavania mengatakan bahwa hal tersebut bisa dilatih denganmembiasakan pendengaran kita untuk mendengarkan pembicaraan dalam bahasa sumber dan berlatih menerjemahkan secara langsung karena hal tersebut akan mempengaruhi sistim kerja otak kita yang nanti akan secara otomatis bisa memisahkan cara berkonsentrasi dan mengingat kata atau kalimat yang diucapkan.

Setelah sesi tanya-jawab, acara dilanjutkan dengan demo simultaneous dan consecutive interpreting yang diperagakan oleh Mbak Indra Blanquita. Dalam demo tersebut diperlihatkan perbedaan mendasar dalam melakukan simultaneous dan consecutive interpreting. Untuk simultaneous interpreting, mengutip istilah dari Mbak Indra, “menempel lebih mesra dari pasangan sendiri”, diperlihatkan bahwa seorang juru bahasa harus terus berkonsentrasi dalam mendengarkan setiap kata dan kalimat yang diucapkan oleh pembicara karena bila tertinggal beberapa detik maka hal itu dapat menyebabkan timbulnya perbedaan makna sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak tepat sasaran. Untuk consecutive interpreting, seorang juru bahasa melakukan note taking dengan berkonsentrasi mendengarkan dan memperhatikan pembicara, lalu ketika pembicara selesai maka juru bahasa langsung menyampaikan isi dari kalimat tersebut ke dalam bahasa target. Diusahakan jangan sampai ada kata atau kalimat yang terlewat.

Acara diskusi dan tanya-jawab tersebut diakhiri dengan pemberian hadiah kepada peserta yang dianggap telah mengajukan pertanyaan terbaik, dan hadiah jatuh kepada rekan Ricky Zulkifli berupa satu set buku yang terdiri atas buku Bahtera 1 dan 2 (Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna) serta Pedoman Bagi Penerjemah karya Rochayah Machali. Hadiah juga diberikan kepada dua orang peserta yang sudah berani tampil untuk mencoba melakukan penjurubahasaan dari video yang sengaja dipilih dari Youtube.

Acara dilanjutkan dengan perayaan singkat peringatan setahun berdirinya HPI Komda Jabar yang ditandai dengan pemotongan kue dengan lilin angka 1. Sebenarnya ulang tahun pertama HPI Komda Jabar jatuh pada pada tanggal 23 Juli 2012,  tetapi baru“dirayakan” pada hari ini, karena tanggal tersebut bertepatan dengan bulan puasa. Pemotongan kue dilakukan oleh Ketua HPI KomdaJabar, Lanny Utoyo,  lalu potongan pertama diserahkan kepada Ketua HPI Pusat. Potongan kedua kepada Sekretaris HPI Pusat, dan yang ketiga kepada Ibu Sofia Mansoor, penasihat Komda Jabar. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan dari HPI KomdaJabar kepada para narasumber dan moderator. Tidak lupa tentunya, acara foto bersama, yang tidak dilewatkan oleh semua peserta dan pengurus. Makan siang dengan menu nasi timbel komplit dan sayur asem melengkapi temu Komp@k kali ini, sekaligus menjadi mata acara terakhir.

Sungguh acara ini memberikan informasi dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi semua peserta, selain untuk mempererat tali silaturahmi dengan sesama rekan penerjemah dan/atau juru bahasa. Semoga acara hari ini mendapatkan tanggapan positif dan ditindaklanjuti dengan melaksanakan pelatihan penjurubahasaan secara berkesinambungan, yang pada akhirnya bisa menghasilkan juru bahasa generasi baru yang kompeten dalam bidang ini. Aamiin.

 

Catatan: pelatihan rencananya akan diadakan pada tanggal 1 Desember 2012 , dengan didahului seleksi calon peserta pelatihan (dibatasi hanya 15 orang) satu atau dua minggu sebelumnya.

Bandung, 9 September 2012

Tim Lapanta HPI Komda Jabar

Posted in:
About the Author

Dina Begum

Pengurus HPI Bidang Infotek

2 Comments

Silakan Komentar Anda