Lapanta Bincang Santai dan Sesi Berbagi: “Strategi Pengembangan Karier Penerjemah di Era AI"
Menyusul Simulasi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI untuk Penerjemah yang telah diadakan sehari sebelumnya, HPI Komda DIY kembali mengadakan acara pada Ahad, 19 Juli 2026. Acara kali ini berkonsep bincang santai dan sesi berbagi, bertema “Strategi Pengembangan Karier Penerjemah di Era AI”. Menghadirkan narasumber Ade Indarta (Co-Founder KarenaKata; Eks-linguis Netflix, Facebook, dan Expedia) yang tak kurang pengalaman menyelami dunia industri penerjemahan.
Acara dimulai pukul 10 pagi WIB, diawali dengan sambutan oleh wakil ketua Komda DIY, Baradiska Putra Krisnanto. Dilanjutkan pemaparan oleh narasumber Ade Indarta. Peserta tak kurang dari 20 orang. Semua peserta menyimak secara saksama dengan pengaturan duduk U-shape meeting. Ruangan acara tak terlalu luas, bersuhu dingin, dan proyeksi monitor tampak besar dan jelas. Menciptakan suasana akrab dan dekat dengan narasumber.
Secara garis besar, pemaparan narasumber terbagi menjadi 10 bagian, yang secara ringkas dapat dirangkum sebagai berikut:
Pembukaan
Peserta berkesempatan mengenal narasumber dengan menyimak perjalanan karier beliau sebagai seorang linguis. Kemudian berlanjut dengan pemetaan profesi penerjemah di era AI. Di mana posisi kita sebenarnya, sebagai penerjemah, saat ini? AI makin pandai menerjemahkan, tapi mengapa masih ada yang mau membayar penerjemah?
Berdasarkan artikel yang dimuat di Google Blog, lebih dari 1 miliar pengguna internet meminta bantuan Google Translate untuk menerjemahkan bahasa setiap bulannya. Ini sudah merupakan bagian dari gaya hidup saat ini untuk melek informasi.
Volume teks yang diterjemahkan mencapai jumlah yang signifikan, setara dengan pembacaan secara lantang yang dilakukan dalam 24 jam sehari tanpa henti selama 12.000 tahun ke depan.
Realitas AI
Industri penerjemahan saat ini bukan berstatus “sedang” mengalami perubahan, tetapi sebenarnya justru “sudah” berubah wujudnya. Narasumber menganalisis berdasarkan pengalaman pribadi dan membandingkan persentase jenis pekerjaannya di bidang bahasa dan terjemahan antara tahun 2021 (yang masih mengedepankan sistem konvensional) dengan tahun 2026 (di era AI).
Hasilnya, permintaan terjemahan tradisional pada 2026 menurun drastis menjadi hanya 10% saja dibandingkan tahun 2021, yang bernilai 80%. Lalu Post-Editing (MTPE) yang pada 2021 hanya menyumbang 5% saja terhadap volume pekerjaan yang masuk ke narasumber, kini naik menjadi 55% pada 2026, menjadikannya pilar utama untuk saat ini. Kemudian disusul jenis pekerjaan berkonsep AI Training & Annotation yang pada 2021 tidak punya porsi sama sekali (0%), kini mulai berdatangan dan menyumbang nilai 30%. Sedangkan penyuntingan tradisional yang tadinya, pada 2021, hanya ada nilai sebesar 15%, kini makin turun menjadi hanya tersisa 5% saja.
Hal-hal yang sudah dapat dilakukan AI saat ini adalah menghasilkan terjemahan awal, menawarkan beberapa alternatif, memeriksa konsistensi dan menyesuaikan gaya serta panjang teks. Namun untuk aspek konteks, penilaian (pertimbangan kelayakan), risiko dan tanggung jawab masih belum bisa diserahkan sepenuhnya ke AI.
Pada bagian ini juga dipaparkan banyaknya jenis pekerjaan seorang linguis/penerjemah setelah adanya AI. Seperti post editing, LQA, terminoloty & style guide, language management, testing & QA, AI evaluation, consulting & training, dan masih banyak lagi. Sementara bagian pekerjaan yang paling tertekan sekarang adalah pekerjaan generik yang hanya memproduksi teks, yang sifatnya berulang, bervolume tinggi, dan berisiko rendah.
Yang sebenarnya terancam bukan seluruh profesi penerjemah, melainkan pekerjaan yang hanya memproduksi teks (bahasa sasaran) secara tradisional dengan sifat yang disebutkan di atas tadi. Trennya bergeser, dari produsen teks menjadi penilai dan pemecah masalah.
Perubahan Teknologi bagi Penerjemah
Bagi penerjemah, perubahan teknologi bukan hal baru. Sejak dulu sudah muncul berbagai perubahan, yang menimbulkan kekhawatiran dan mengubah cara kerja. Mulai dari era internet, CAT Tools, MT, hingga alat kerja berbasis platform, dan sekarang kita hadapi era generative AI. Teknologi mengambil sebagian tugas-tugas tertentu, dan jarang menggantikan satu profesi sekaligus.
Karena tugas-tugasnya berubah, nilainya juga berubah. Tugas-tugas yang makin diotomatisasi untuk saat ini adalah yang mengandung pengulangan, pencarian, produksi awal dan pemeriksaan mekanis. Sementara yang makin dibutuhkan adalah kemampuan menilai, mempertimbangkan konteks, kendali mutu, dan pengambilan keputusan. Ini menciptakan jenis peluang-peluang baru. Kombinasi antara kompetensi penerjemahan, penilaian mutu, dan pemahaman produk menghasilkan: LQA, testing, language management, dan AI evaluation.
Membaca Perubahan
Penerjemah tertuntut untuk menelisik apakah perubahan-perubahan tersebut memengaruhi dirinya. Karena tidak semua perubahan perlu untuk diikuti. Setelah itu, pilihannya hanya ada tiga: bertahan, memperdalam atau bergeser.
Untuk bertahan, diperlukan spesialisasi atau nilai-nilai tertentu yang dibutuhkan oleh pengguna jasa. Lalu untuk keputusan memperdalam, bisa menambahkan domain, aspek mutu atau teknologi. Dapat berkembang menjadi reviewer atau pelaku LQA. Sementara untuk yang memilih bergeser dan lebih tertarik dengan teknologi, bisa berpindah ke kompetensi pekerjaan yang berdekatan. Misalnya sebagai tester atau AI evaluator.
Pada dasarnya keputusan harus diambil dengan pertimbangan yang matang, apakah akan memilih untuk bertahan, memperdalam atau bergeser. Bukan mengorbankan seluruh karier pada satu perubahan saja.
Menentukan Strategi
Pada bagian 5 hingga 8 narasumber membagikan strateginya untuk tetap eksis di industri ini. Secara umum dapat diringkas sebagai berikut:
- Menemukan value diri sendiri dan memetakan posisinya di industri yang sudah berubah ini. Pentingnya literasi mengenai AI, spesialisasi yang kuat, kemampuan yang bernilai dan mengaudit value diri sendiri secara berkala.
- Memperluas cakupan. Pekerjaan penerjemah sekarang tidak hanya menerjemahkan. Fokusnya sudah bergeser ke mutu, language management, AI language work dan jangan segan untuk menentukan fokus berikutnya.
- Mengelola karier penerjemah sebagai bisnis. Mempertimbangkan segi efektivitas kerja, penghasilan dan produktivitas. Mencegah risiko ketergantungan dan mulai diversifikasi yang masuk akal.
- Menjaga reputasi dan aset. Reputasi penting dibangun sebelum dibutuhkan. Merekam pengalaman dapat menjadi aset dan portofolio sebagai bukti. Berbagi wawasan untuk mendapat masukan (feedback).
Rencana 90 Hari
Narasumber membagikan kiat praktis untuk diimplementasikan oleh para peserta melalui praktik rencana 90 hari. Kiat ini berperan sebagai sarana untuk memetakan posisi diri sendiri sebagai penerjemah, atau pekerja bahasa, yang akan menentukan fokus ke mana setelah ini.
Prosesnya dijabarkan sebagai berikut: satu bulan pertama adalah mengaudit posisi sekarang (mempertimbangkan jenis pekerjaan, value, waktu, risiko dan bukti). Bulan kedua menentukan fokus baru, kemudian belajar dan bereksperimen. Melakukan pengujian skala kecil dan meminta masukan. Dan yang terakhir, pada bulan ketiga, menghasilkan bukti yang menunjukkan bahwa kita bisa belajar dan bahwa kita mampu melakukannya.
Bagian ini memberi peserta tiga pertanyaan untuk dibawa pulang sebagai bahan evaluasi:
- Apa bagian pekerjaan saya yang paling rentan?
- Apa value saya yang paling sulit digantikan?
- Bukti baru apa yang akan saya hasilkan dalam 90 hari?
Penutup dan Tanya Jawab
Posisi penerjemah di era AI sudah tergambar dan pertanyaan di awal diskusi ini telah terjawab. Masih ada yang akan tetap membayar penerjemah, meski teknologi mesin terjemahan sudah berkembang drastis, bukan karena manusia lebih baik dari AI, melainkan seseorang tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mengambil keputusan, mengelola risiko dan bertanggung jawab atas hasil outputnya.
Tugas penerjemah bukan mempertahankan cara kerja lama, tetapi harus membangun nilai yang layak dibayar.
Sesi tanya jawab diisi dengan saling berbagi wawasan mengenai perkembangan kondisi industri terjemahan terkini yang dialami oleh para peserta. Peserta terlihat antusias saling melempar diskusi, hingga tak terasa waktu menjelang pukul 14:30 WIB.
Muncul pendapat, bahwa penerjemah di era sekarang tidak hanya akan bersaing dengan sesama penerjemah saja, melainkan siapa pun yang bukan berasal dari latar belakang linguistik juga turut ambil bagian. Karena faktanya saat ini mereka telah ikut terjun mengambil peluang-peluang micro-job terkait pengembangan AI dalam bidang bahasa. Namun tentu, sebagai penerjemah, kita harus punya nilai dan kemampuan pembeda, sehingga dapat memiliki nilai lebih dibandingkan mereka yang tidak memiliki latar belakang linguistik.






