Pemanasan Menuju "Kursi Panas”
Selama tiga tahun berturut-turut, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah (Komda) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menunjukkan konsistensinya dalam membina para bahasawan. Pada Sabtu, 17 Juli 2026, HPI Komda DIY sukses menyelenggarakan Simulasi Tes Sertifikasi Nasional (TSN) yang bertempat di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB ini merupakan pemanasan sebelum “ujian” sesungguhnya. TSN resmi tahun ini dijadwalkan bergulir pada Sabtu, 25 Juli 2026. Ujian bagi penerjemah dan editor akan dihelat secara paralel di dua lokasi, yakni Inixindo, Jakarta, dan Politeknik Negeri Malang, Malang. Sementara itu, bagi para juru bahasa akan dipusatkan di Kemendikdasmen, Jakarta.
Mengapa ajang TSN ini begitu penting untuk diikuti? Merujuk pada informasi di situs resmi www.hpi.or.id, sertifikasi TSN merupakan sistem yang menguji dan membuktikan kompetensi seorang penerjemah atau juru bahasa profesional. Memiliki sertifikasi ini memberikan segudang manfaat, di antaranya meningkatkan profil profesionalisme, mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi dari pengguna jasa, serta menjadi tolok ukur standar keahlian yang diakui secara nasional dan internasional. Sertifikat ini berlaku selama lima tahun dan layaknya paspor tepercaya untuk memperluas jangkauan karier di industri bahasa.
Kesuksesan simulasi tahun ini tentu tidak lepas dari kolaborasi apik berbagai pihak. UAD Yogyakarta dengan tangan terbuka menyediakan tempat dan fasilitas yang mumpuni. Di sisi lain, HPI Komda DIY juga menggandeng Translexi yang menyediakan materi soal dengan standar TSN. Sesi ini pun terasa makin berbobot berkat kehadiran Mas Wahyu Ginting, Wakil Ketua 1 HPI Pusat sekaligus Direktur Kualitas Produk dan Layanan Translexi, yang langsung memberikan pembekalan serta membahas tuntas soal-soal simulasi.
Simulasi kali ini diikuti oleh delapan orang peserta yang datang dari latar belakang beragam, mulai dari anggota aktif HPI, mahasiswa, hingga kalangan non-anggota. Membuka pendaftaran untuk mahasiswa dan masyarakat umum rupanya merupakan salah satu inisiatif pengurus guna menjaring anggota baru. Antusiasme peserta patut diacungi jempol; terbukti, terdapat dua peserta yang rela terbang jauh-jauh dari Bali dan Jakarta khusus untuk merasakan sendiri atmosfer ujian ini agar tidak “demam panggung” saat hari H nanti.
Tentu saja, panitia tahu betul cara mengapresiasi kerja keras para peserta yang otaknya sudah dipaksa bekerja ekstra. Selain mendapatkan snek dan makan siang, peserta membawa pulang suvenir unik berupa foto cetak gratis. Desain bingkai foto tersebut sangat menarik dan sarat makna, mengusung konsep perbandingan visual “sebelum dan sesudah”. Pada panel foto sebelah kiri, terdapat gelembung teks bertuliskan ‘Future Certified Translator‘, sementara pada panel kanan disematkan elemen grafis berupa bintang-bintang yang menyimbolkan transformasi menjadi seorang ‘Certified Translator‘. Dilengkapi dengan sentuhan stiker ceria bertuliskan “Siap Sertifikasi”, desain suvenir ini layaknya afirmasi positif sekaligus doa tulus bagi kesuksesan para peserta.






