Laporan Pandangan Mata Temu HPI Komp@k Istimewa

Memperingati Hari Jadi HPI Ke-39:
“Sukses Membangun dan Beralih Karier Menjadi Penerjemah/Juru Bahasa: Bagaimana Tantangan dan Kiat Mengatasinya.”

 

Acara pertemuan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) pertama tahun 2013 diadakan pada tanggal 9 Februari 2013 di PDS HB Jassin, Jakarta. Selain sebagai syukuran hari jadi yang ke-39, acara diisi dengan gelar wicara (talk show)  “Sukses Membangun dan Beralih Karier Menjadi Penerjemah/Juru Bahasa: Bagaimana Tantangan dan Kiat Mengatasinya” dengan narasumber Bapak Wiyanto Suroso, Ibu Naindra Pramudita dan Ibu Claryssa Suci Fong, pengukuhan Penerjemah Bersertifikat HPI (HPI Certified Translator) dan peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Himpunan Penerjemah Indonesia dengan nama “Indonesian Directory of Translators and Interpreters”

Ketua HPI dengan para narasumber dan moderator.
Foto: Arfan Achyar

Ketiga narasumber gelar wicara memaparkan bagaimana pengalaman mereka sampai terjun ke dunia penerjemahan. Pak Wiyanto yang dahulu konsultan mengambil keputusan yang menurutnya berani yaitu menjadi penerjemah lepas purnawaktu. Pasalnya, saat Pak Wiyanto mengikuti Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) beberapa tahun silam, beliau terheran-heran mendapati para peserta ujian kebanyakan penerjemah lepas. Ternyata pekerjaan yang selama ini ditekuni sebagai bagian dari pekerjaannya sebagai konsultan itu bisa dijadikan sandaran hidup. Bukan hanya Pak Wiyanto yang tercengang seperti itu. Ibu Dita, begitu panggilan akrab Ibu Naindra Pramudita, juga mengalaminya. Setelah kiprahnya di BPPN berakhir, berkat temannya yang sudah 10 tahun menggeluti dunia penerjemahan Bu Dita mengenal dan kemudian menyelami profesi yang kian menjanjikan ini.

Pertama-tama yang disiapkan Bu Dita adalah Curriculum Vitae atau Resume. Rupanya, CV penerjemah tidak seperti CV karyawan. Sebagai ‘brosur’ jasa yang kita tawarkan, CV penerjemah harus semenarik mungkin tanpa terlihat terlalu bombastis.

CV boleh dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, disesuaikan dengan calon klien. Selain itu, lampirkan juga contoh terjemahan yang kita buat. Dari forum tanya-jawab, diketahui bahwa pemberi kerja lebih menyukai melihat informasi yang spesifik, sesuai dengan keahlian yang dicarinya. Oleh karena itu, lumrah bila seseorang memiliki beberapa versi CV yang disesuaikan dengan calon pemberi kerja yang dituju. Bila sudah punya pengalaman, kita bisa juga mengelompokkannya—misalnya selain menerjemahkan novel juga menerjemahkan dokumen, atau penerjemah yang sekaligus penyunting atau juru bahasa, dll.—dan menaruh bidang yang sedang kita lamar di urutan paling atas, atau dipisahkan sama sekali.

Sesi tanya-jawab.
Foto: Arfan Achyar

Bagaimana bila belum punya pengalaman? Tidak usah berkecil hati, penerjemah bisa memasukkan informasi tentang minat terbesarnya pada bidang apa, untuk memperbesar peluang mendapatkan tempat di ceruk pasar yang dibidik.

Bagaimana dengan juru bahasa, samakah? Kata Ibu Claryssa Suci Fong, ketua HPI Komisariat Daerah (Komda) Provinsi DIY-Jateng yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta, CV seorang juru bahasa tidak jauh berbeda dengan penerjemah, hanya saja penguasaan perangkat lunak tidak terlalu signifikan. Bahkan, dari pengalamannya, kebanyakan kliennya lebih memilih rekomendasi dari mulut ke telinga ketimbang CV. Ibu Claryssa menambahkan, kartu keanggotaan HPI (anggota penuh) menambah kredibilitas juru bahasa dan penerjemah. Di Bali, keanggotaan HPI diterima sebagai kredibilitas pemegangnya untuk menjadi juru bahasa di pengadilan. Dalam pemaparannya, baik Pak Wiyanto, Bu Dita maupun Bu Claryssa mengaku kesejahteraan mereka meningkat setelah menjadi anggota HPI.

Pada ulang tahunnya yang ke-39 ini, HPI mengukuhkan para anggotanya yang lulus Tes Sertifikasi Nasional (TSN). Dari sekian banyak peserta tes yang lulus, 17 orang hadir untuk menerima sertifikat kelulusan, termasuk Pak Eddie Notowidigdo, Ketua HPI, dan Pak Hendarto Setiadi, Ketua HPI periode 2007-2010.

Para Penerjemah Bersertifikat HPI (HPI-Certified Translators)
Foto: Arfan Achyar.

Setelah makan siang sambil dihibur oleh para penerjemah bersuara emas dengan diiringi organ, tibalah acara yang dinanti-nantikan yaitu peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Himpunan Penerjemah Indonesia, http://sihapei.hpi.or.id. Direktori online ini menampilkan nama-nama anggota penuh HPI berikut dengan bidang keahlian dan data diri yang memudahkan pihak calon pemberi kerja menghubungi penerjemah. Fitur-fitur dalam direktori ini dibuat sebagian besar berdasarkan pengalaman Bapak Eddie tentang informasi yang biasanya ingin diketahui oleh calon pemberi kerja. Setiap anggota penuh nanti akan mendapatkan surat elektronik pemberitahuan tentang bagaimana cara untuk mengakses direktori dan memperbarui data masing-masing.

Menurut Pak Eddie,

“…dengan adanya direktori ini para pengguna jasa di mana pun dapat dengan mudah mencari dan memilih penerjemah/juru bahasa HPI yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, direktori ini merupakan layanan HPI kepada para anggotanya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan menyediakan pajanan (exposure) secara nasional dan internasional guna menjangkau pasar luar negeri dan meningkatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di dalam negeri.”

Pada kesempatan ini, Bapak Ivan Lanin yang memimpin tim Infotek HPI memperlihatkan tampilan layar laman-laman direktori dan menjelaskan fitur-fitur apa saja yang terdapat di dalamnya. Kontan para hadirin yang masih memenuhi ruangan acara menghujani Pak Eddie dan Pak Ivan dengan pertanyaan dan masukan. Direktori versi pertama ini akan siap dipakai publik pada bulan Maret 2013. Jika keanggotaan HPI saja membuat kesejahteraan para narasumber gelar wicara meningkat, bisa dibayangkan betapa besar dampak direktori ini terhadap penerjemah.

Kesan peserta yang datang untuk pertama kalinya ke acara pertemuan HPI:

“Untuk pemula seperti saya, pertemuan ini membuka dunia baru banget dan terkesan dengan kekompakan para pengurusnya, kekeluargaannya dan senior-seniornya yang enggak pelit bagi ilmu. Yang baru jadi merasa diakui, langsung nyaman. Pak Eddie itu baik banget ya. Saya menambahkan teman ke grup HPI, dan cerita tentang acara kemarin. Dia menjadi  interpreter sejak tahun 1989 di Sidoarjo, bisa bahasa Inggris, Italia, dan Jepang. Dia langsung berencana melengkapi syarat (referensi) untuk menjadi anggota HPI, dan ingin datang kalau ada acara lagi. Saya mau mendaftar jadi anggota muda karena ingin kerja dari rumah, tidak kuat menghadapi macetnya Ibu Kota.”

– Dedeh Handayani, orang yang sedang belajar menjadi penerjemah.

 

Dina Begum
HPI 01-10-0242

Posted in:
About the Author

Dina Begum

Pengurus HPI Bidang Infotek

3 Comments

Silakan Komentar Anda