Himpunan Penerjemah Indonesia
  • Beranda
  • Organisasi
    • Sejarah
    • Komisariat Daerah
      • HPI Komda Jabar
      • HPI Komda Jatim
      • HPI Komda Bali
      • HPI Komda DIY
      • HPI Komda Jateng
      • HPI Komda Kepri
      • HPI Komda Kalsel
      • HPI Komda Kaltimtara
      • HPI Komda Sulsel
      • HPI Komda Sumbagut
      • HPI Komda Sumbar
    • Pengurus
    • Mitra
    • Dasar Hukum
    • AD/ART
    • Laporan Tahunan
    • Kongres HPI
  • Berita & Cerita
    • Berita
    • Cerita
    • Nawala
    • Galeri
  • Kegiatan
    • Mendatang
    • Lampau
Himpunan Penerjemah Indonesia
  • Profesi
    • Kode Etik & Kode Perilaku
    • Acuan Tarif
    • Sertifikasi
      • Informasi TSN HPI
  • Anggota
    • Informasi
    • Pengajuan
    • Sihapei
  • Kontak
  • Beranda
  • Organisasi
    • Sejarah
    • Komisariat Daerah
      • HPI Komda Jabar
      • HPI Komda Jatim
      • HPI Komda Bali
      • HPI Komda DIY
      • HPI Komda Jateng
      • HPI Komda Kepri
      • HPI Komda Kalsel
      • HPI Komda Kaltimtara
      • HPI Komda Sulsel
      • HPI Komda Sumbagut
      • HPI Komda Sumbar
    • Pengurus
    • Mitra
    • Dasar Hukum
    • AD/ART
    • Laporan Tahunan
    • Kongres HPI
  • Berita & Cerita
    • Berita
    • Cerita
    • Nawala
    • Galeri
  • Kegiatan
    • Mendatang
    • Lampau
Himpunan Penerjemah Indonesia
  • Profesi
    • Kode Etik & Kode Perilaku
    • Acuan Tarif
    • Sertifikasi
      • Informasi TSN HPI
  • Anggota
    • Informasi
    • Pengajuan
    • Sihapei
  • Kontak
Acara

Temu HPI Komp@k 20 Oktober 2012 “Mengupas Tuntas Tes Sertifikasi Nasional (TSN)”

by Dina Begum 4 Oktober 2012
written by Dina Begum

Tes Sertifikasi Nasional untuk para penerjemah akan kembali diselenggarakan tahun ini. TSN yang baru diselenggarakan sebanyak dua kali ini merupakan upaya HPI untuk memberikan sertifikasi kepada seluruh anggota HPI yang mempunyai kemampuan di bidang penerjemahan dan lulus Tes Sertifikasi Nasional yang diselenggarakan oleh Komite Kompetensi dan Sertifikasi Himpunan Penerjemah Indonesia (KKS-HPI). Tes ini merupakan kesempatan bagi para penerjemah anggota HPI untuk mengukuhkan keahliannya di bidang penerjemahan, dan membantu membangun karier yang lebih gemilang. Tentu masih banyak pertanyaan mengenai apa itu TSN, bagaimana penyelenggaraannya, apa yang harus disiapkan, bagaimana metode penilaiannya dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Untuk itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mengupas tuntas TSN bersama Komite Kompetensi dan Sertifikasi Himpunan Penerjemah Indonesia (KKS-HPI).

Hari, Tanggal: Sabtu, 20 Oktober 2012
Waktu: pukul 09.00 – 14.00
Tempat: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat
Untuk pendaftaran:

  • Hubungi Sekretariat HPI: telepon 021-71617397 atau surel: sekretariat@hpi.or.id
  • Melakukan pembayaran:
    o Anggota HPI Rp100.000,-
    o Non-HPI Rp125.000,-
  • Untuk memudahkan proses administrasi, mohon agar mencantumkan Nama dan Nomor Anggota HPI ketika melakukan pembayaran melalui Internet Banking atau melalui Mesin ATM Non-Tunai. Apabila pembayaran dilakukan melalui Mesin ATM Tunai, mohon agar 3 digit terakhir nomor anggota HPI disertakan dalam pembayaran, misalnya Naindra Pramudita – Rp. 100.230,- (3 digit terakhir, 230, adalah nomor Anggota HPI Naindra Pramudita).
  • Pembayaran dilakukan melalui:
    Bank Mandiri
    Rekening No. 1030005150533
    Atas Nama: Himpunan Penerjemah IndonesiaBCA
    Rekening No. 4361630071
    Atas Nama Bendahara HPI: Nelce Manoppo
4 Oktober 2012 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Lapanta

Lapanta Temu HPI Komp@k Komda Jabar: Interpreting

by Dina Begum 9 September 2012
written by Dina Begum

Interpreting: The Job, The Challenges, The Opportunities

Lapanta Temu Komp@k HPI Komda Jabar

 

Acara Temu Kompak HPI Komda Jabar kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2012 dengan mengangkat tema mengenai interpreting atau penjurubahasaan. Adapun hal–hal yang menjadi pembahasan adalah pekerjaan sebagai juru bahasa, tantangan yang dihadapi serta kesempatan yang tersedia bagi seorang juru bahasa. Acara ini dihadiri oleh pengurus HPI Pusat, yaitu Bpk. Eddie R. Notowidigdo (Ketua Umum) dan Ibu Anna Wiksmadhara (Sekretaris). Peserta berjumlah 51 orang, sebagian datang dari luar kota, misalnya Sriati Sumowidagdo, anggota HPI yang khusus datang dari Purwokerto (Jateng) , Laksmi Naomi (Yogyakarta),Griselda Raisa (Bogor), sedangkan peserta lainnya kebanyakan berasal dari Bandung dan sekitarnya.

Acara dibuka oleh MC, yaitu Betty Sihombing, dengan ucapan selamat Idul Fitri serta selamat datang kepada para hadirin. Setelah sambutan singkat dari ketua HPI Komda Jabar, Lanny Utoyo  dan Bpk. Eddie R. Notowidigdo, Ketua Umum HPI, acara langsung masuk ke intinya, yaitu gelar wicara seputar penjurubahasaan, dipandu oleh moderator yang juga seorang interpreter, Fajar Perdana.  Narasumber pertama yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara adalah Susi Septaviana, pengajar Interpreting di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sebagai pembicara pertama, Susi Septaviana  menyampaikan sekilas beberapa konsep dasar dalaminterpreting, baik dari sudut pandang teori maupun praktik. Dalam paparannya, Susi juga menyampaikan bahwa minat mahasiswa terhadap bidang ini baru sebatas keinginan semata untuk menjadi seorang juru bahasa atau karena mengikuti keinginan dari orang tua, sedangkan penguasaan bahasa asing masih dalam tahap belajar. Padahal, kemampuan berbahasa, baik bahasa sumber maupun bahasatarget, merupakan hal penting yang harus sudah dimiliki ketika ingin belajar interpreting. Ini sesuatu yang mutlak dan seharusnya sudah tidak perlu dibelajarkan lagi di kelas interpreting. Hal yang jadi tantangan dalam pembelajaran interpreting kepada mahasiswa adalah menggabungkan teori dan praktik. Aktivitas interpreting berlangsung secara real time (sekali kita sudah mengucapkannya, kata-kata kita tidak dapat ditarik kembali), maka seorang interpreter sebaiknya belajar how to let go (bagaimana caranya melupakan apa yang sudah dikatakan). Walaupun dalam kondisi sepersekian detik, seorang juru bahasa dituntut untuk sigap dan tanggap. Untuk mengakalinya, ketika juru bahasa mendengarkan satu rangkaian kalimat, lalu ada jeda sekian detik sebelum menerjemahkan kalimat selanjutnya, saat jeda itu digunakan untuk pencatatan (note taking).

Secara umum ada tiga moda kerja interpreting yang bisa dipilih yaitu simultaneous interpreting,  consecutive interpreting dansight translation.  Keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan interpreting adalah language/translation, note taking, delivery (public speaking). Khusus untuk simultaneous interpreting, juga dibutuhkan team work, khususnya dengan rekan sesama interpreter.

Dalam consecutive interpreting, kita melakukan note taking yang berfungsi untuk membantu seorang juru bahasa dalam mengingat topik dan isi pembicaraan serta membantu dalam menyusun rangkaian kalimat untuk disampaikan kembali (delivery). Posisi seorang juru bahasa yaitu “being invisible of the speaker”. Juru bahasa harus mengerti posisi dan tanggung jawab pekerjaannya. Bila seorang juru bahasa masih memiliki perasaan harus tampil dan ingin menonjol, ini berarti melanggar kode etik. Informasi apa pun yang didengar, diterjemahkan lalu disampaikan kembali oleh juru bahasa tidak boleh disampaikan lagi kepada pihak luar karena itu bukan merupakan kewenangan dari seorang juru bahasa. Untuk menghasilkan kualitas pekerjaan interpreting yang bagus, seorang juru bahasa perlu memperhatikan aspek fidelity (completeness and accuracy), vocabulary, structure/naturalness, background knowledge.

Perbedaan dasar antara seorang penerjemah dan juru bahasa terletak pada daya ingat (memori). Untuk moda simultaneous interpreting bergantung pada memori jangka pendek, sedangkan untuk consecutive interpreting bergantung pada memori jangka pendek dan jangka panjang.

Salah satu tantangan yang bisa terjadi pada saat consecutive interpreting adalah ketika narasumber berbicara terlalu cepat sehingga juru bahasa hanya bisa menangkap satu atau dua kata saja sambil mengira-ngira arti dari kalimat yang dibacakan. Selain itu, kita tidak dapat memilih bidang atau materi yang akan diterjemahkan karena pada dasarnya seorang juru bahasa harus selalu siap untuk menerima materi apa pun yang diberikan. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang juru bahasa tidak boleh bertugas lebih dari 2,5 jam dan harus digantikan oleh rekan lainnya. Bila beban pekerjaan seorang juru bahasa terlalu lama dan berat maka akan mempengaruhi tingkat keakuratannya dalam menyampaikan pesan pembicara. Sebaiknya penjurubahasaan dilakukan oleh dua orang juru bahasa, sehingga bisa saling mendukung dan bergantian. Seorang juru bahasa dapat mengembangkan masa depannya melalui networking, menjaga kualitas hasil pekerjaan dengan cara terus mengasah kemampuan dan belajar serta menjalin hubungan baik dengan klien sehingga menimbulkan kepercayaan.

Sebagai pembicara kedua adalah Indra Blanquita, salah satu juru bahasa senior dari Jakarta. Beliau mengatakan bahwa dalamsimultaneous interpreting, bila seorang juru bahasa tanpa sengaja melakukan kekeliruan dalam menerjemahkan suatu kata dalam sebuah rangkaian kalimat, tidak perlu menjadi gugup dan ragu tapi tetap melanjutkan proses penjurubahasaan sampai selesai karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu sangat tidak memungkinkan bagi seorang juru bahasa untuk melakukan koreksi. Menurut Mbak Indra, “the audience doesn’t notice”, jadi hal tersebut tidak perlu terlalu dipikirkan karena memang sudah telanjur terjadi. Saat melakukan simultaneous interpreting di dalam booth, satu orang juru bahasa sebaiknya bekerja tidak lebih dari 30 menit lalu selanjutnya digantikan oleh rekan yang lain.

Kendala yang biasanya terjadi pada seorang juru bahasa yaitu kondisi “macet” (stuck/hang/blank) ketika mendengar sebuah kata atau istilah baru. Untuk mengatasinya, beberapa hari sebelum mulai bekerja bisa meminta materi yang akan menjadi topik pembicaraan atau bila tidak diberikan setidaknya kita bisa mengusahakan untuk mengetahui topik yang nanti akan dibahas lalu mencari melalui internet atau akan lebih baik lagi bila dapat bertemu dengan narasumber yang nanti akan menjadi pembicara. Tetapi bila sampai pada waktu pelaksanaan ternyata materi atau topik pembicaraan masih belum bisa diperoleh, kita harus tetap bisa mempersiapkan diri untuk menerima dan menghadapi kondisi apa pun yang nanti akan terjadi. Istilah yang diberikan Mbak Indra, “it is us against the world”,memang sangat tepat dalam menggambarkan situasi dan kondisi tersebut di atas. Tantangan yang dihadapi oleh seorang juru bahasa dalam praktiknya memang jauh lebih sulit karena dituntut untuk bisa menangani dan mengatasi permasalahan yang terkadang timbul pada saat melaksanakan tugas penjurubahasaan, sehingga dibutuhkan mental yang kuat dan tangguh. Satu hal yang penting dan harus diperhatikan dalam melakukan penjurubahasaan adalah alur penerjemahan yang mengalir (flowing) dan diusahakan jangan sampai ada jeda yang terlalu panjang antara akhir kalimat pertama sampai masuk pada awal kalimat selanjutnya, karena bila hal ini sampai terjadi dan terulang beberapa kali maka akan menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari hadirin sehingga juru bahasa tersebut bisadianggap kurang kompeten.

Selanjutnya sebagai pembicara ketiga adalah Samuel Siahaan, juru bahasa senior dari Jakarta yang mengkhususkan diri dalam penjurubahasaan untuk bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Menurut pendapat beliau, penjurubahasaan merupakan sebuah anugerah yang dibawa sejak dilahirkan (gift), tetapi bukan berarti bidang penjurubahasaan tidak dapat dipelajari, hanya saja kemampuan untuk mencapai kemahiran dan kebiasaan tergantung dari kemauan dan kerja keras. Tantangan dalam penjurubahasaan, seperti consecutive interpreting, sebaiknya beberapa hari sebelum pelaksanaan sudah mendapatkan materi penunjang dari topik yang nanti akan dibicarakan. Persiapan yang matang akan mempengaruhi kualitas dan kredibilitas kita sebagai seorang juru bahasa. Selain itu, seorang juru bahasa juga harus memastikan agar dibayar di muka minimal sebesar 50% ; bila klien tidak dapat memenuhinya lebih baik tidak menerima pekerjaan yang ditawarkan. Keuntungan menjadi seorang juru bahasa adalah bisa ikut di dalam perjalanan atau rombongan tertentu, termasuk mendapat fasilitas yang baik.

Pembicara keempat adalah Meidy Maringka, juru bahasa senior dari Surabaya yang mengkhususkan diri dalam bidang keagamaan. Menurut beliau, dalam melakukan consecutive interpreting, kita sebagai juru bahasa bisa mendapat keuntungan yaitu bisa meminta kepada pembicara untuk sedikit mengulangi kembali kata atau kalimat yang terdengar agak kurang jelas diterima dan dimengerti, jadi ada sedikit jeda waktu untuk berpikir dan menyampaikan kembali rangkaian kalimat tersebut. Untuk tantangan yang pernah dihadapi yaitu ketika salah menangkap maksud dari kata yang disampaikan oleh pembicara sehingga menyebabkan salah pengertian pada saat penyampaian kembali. Cara untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi yaitu dengan langsung bertanya kepada pembicara (berani menanggung rasa malu).

Kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta, antara lain Ibu Sofia Mansoor yang menanyakan mengenai konsistensi penggunaan istilah, apakah masih diperbolehkan menggunakan istilah asing atau harus istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut Mbak Susi Septavania, sebaiknya diusahakan untuk tetap konsisten menggunakan istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa target. Pertanyaan lain juga diajukan oleh rekan penerjemah, Ricky Zulkifli, yang menanyakan bagaimana caranya membagi konsentrasi pada saat consecutive interpreting. Dijawab oleh Mbak Indra Blanquita bahwa hal tersebut dapat dibantu melalui note taking tapi tidak boleh melakukan summarize; cukup menuliskan beberapa kata inti yang sesuai dengan isi pembicaraan dan konsentrasi dalam mendengarkan pembicara, kemudian setelah pembicara selesai berbicara kita langsung menyampaikan kembali dengan dibantu catatan kecil tersebut.

Pertanyaan berikutnya diajukan oleh Samsu Umar, tentang cara membagi konsentrasi saat melakukan simultaneous interpretingagar tidak saling mempengaruhi. Dalam jawabannya, Mbak Susi Septavania mengatakan bahwa hal tersebut bisa dilatih denganmembiasakan pendengaran kita untuk mendengarkan pembicaraan dalam bahasa sumber dan berlatih menerjemahkan secara langsung karena hal tersebut akan mempengaruhi sistim kerja otak kita yang nanti akan secara otomatis bisa memisahkan cara berkonsentrasi dan mengingat kata atau kalimat yang diucapkan.

Setelah sesi tanya-jawab, acara dilanjutkan dengan demo simultaneous dan consecutive interpreting yang diperagakan oleh Mbak Indra Blanquita. Dalam demo tersebut diperlihatkan perbedaan mendasar dalam melakukan simultaneous dan consecutive interpreting. Untuk simultaneous interpreting, mengutip istilah dari Mbak Indra, “menempel lebih mesra dari pasangan sendiri”, diperlihatkan bahwa seorang juru bahasa harus terus berkonsentrasi dalam mendengarkan setiap kata dan kalimat yang diucapkan oleh pembicara karena bila tertinggal beberapa detik maka hal itu dapat menyebabkan timbulnya perbedaan makna sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak tepat sasaran. Untuk consecutive interpreting, seorang juru bahasa melakukan note taking dengan berkonsentrasi mendengarkan dan memperhatikan pembicara, lalu ketika pembicara selesai maka juru bahasa langsung menyampaikan isi dari kalimat tersebut ke dalam bahasa target. Diusahakan jangan sampai ada kata atau kalimat yang terlewat.

Acara diskusi dan tanya-jawab tersebut diakhiri dengan pemberian hadiah kepada peserta yang dianggap telah mengajukan pertanyaan terbaik, dan hadiah jatuh kepada rekan Ricky Zulkifli berupa satu set buku yang terdiri atas buku Bahtera 1 dan 2 (Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna) serta Pedoman Bagi Penerjemah karya Rochayah Machali. Hadiah juga diberikan kepada dua orang peserta yang sudah berani tampil untuk mencoba melakukan penjurubahasaan dari video yang sengaja dipilih dari Youtube.

Acara dilanjutkan dengan perayaan singkat peringatan setahun berdirinya HPI Komda Jabar yang ditandai dengan pemotongan kue dengan lilin angka 1. Sebenarnya ulang tahun pertama HPI Komda Jabar jatuh pada pada tanggal 23 Juli 2012,  tetapi baru“dirayakan” pada hari ini, karena tanggal tersebut bertepatan dengan bulan puasa. Pemotongan kue dilakukan oleh Ketua HPI KomdaJabar, Lanny Utoyo,  lalu potongan pertama diserahkan kepada Ketua HPI Pusat. Potongan kedua kepada Sekretaris HPI Pusat, dan yang ketiga kepada Ibu Sofia Mansoor, penasihat Komda Jabar. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan dari HPI KomdaJabar kepada para narasumber dan moderator. Tidak lupa tentunya, acara foto bersama, yang tidak dilewatkan oleh semua peserta dan pengurus. Makan siang dengan menu nasi timbel komplit dan sayur asem melengkapi temu Komp@k kali ini, sekaligus menjadi mata acara terakhir.

Sungguh acara ini memberikan informasi dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi semua peserta, selain untuk mempererat tali silaturahmi dengan sesama rekan penerjemah dan/atau juru bahasa. Semoga acara hari ini mendapatkan tanggapan positif dan ditindaklanjuti dengan melaksanakan pelatihan penjurubahasaan secara berkesinambungan, yang pada akhirnya bisa menghasilkan juru bahasa generasi baru yang kompeten dalam bidang ini. Aamiin.

 

Catatan: pelatihan rencananya akan diadakan pada tanggal 1 Desember 2012 , dengan didahului seleksi calon peserta pelatihan (dibatasi hanya 15 orang) satu atau dua minggu sebelumnya.

Bandung, 9 September 2012

Tim Lapanta HPI Komda Jabar

9 September 2012 3 comments
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Lapanta

Lapanta HPI Komp@k 1 September 2012

by Dina Begum 2 September 2012
written by Dina Begum

HPI MEMECAH REKOR

Acara Temu Komp@k pada tanggal 1 September 2012 mengangkat topik “Kolaborasi dengan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) untuk Mengakomodasi Kebutuhan Penerjemah Buku” dan menampilkan dua pembicara, yaitu Ibu Nova Rasdiana (IKAPI) dan Mbak Eliza Handayani (Pemrakarsa Pusat Penerjemahan Sastra). Acara yang sekaligus Halal Bihalal HPI ini telah memecah berbagai rekor HPI.

Rekor pertama yang dipecahkan adalah jumlah peserta yang mencapai 109 peserta!! Pemecahan rekor kedua adalah karena jumlah peserta yang begitu banyak, jenis kursi pun menjadi 4 macam menurut seorang pakar penghitung kursi yang tidak bersedia disebutkan namanya. Rekor ketiga yang pecah adalah jumlah kudapan yang mencapai delapan macam pada pukul 08.00 WIB lalu rekor itu dipecahkan oleh warga HPI sendiri yaitu Ibu Sofia Mansoor yang membawa cheese stick, dan Bapak Roudi Hendarto dengan dua macam lunpia khas Semarang pada pukul 10.00.

Rekor keempat adalah penulis lapanta untuk acara ini, tidak tanggung-tanggung, 3 orang: Dina Begum, Mila Kartina & Sofia Sari (DiFi)!

Pembicara pertama, Ibu Nova, menjelaskan tentang “Kerjasama HPI dan IKAPI dalam mempromosikan buku Indonesia di Frankfurt Book Fair (FBF) tahun 2015.” Menurut beliau, FBF yang telah diikuti IKAPI sejak tahun 1987 ini tidak saja mengundang berbagai negara/penerbit yang memamerkan buku, tapi juga memberi ruang bagi industri digital, teknologi informasi, sektor film, industri seni dan kreatif, kultural, dan lain sebagainya untuk berpameran di ajang bergengsi itu.

Selain itu, beliau juga memaparkan Indonesia yang menjadi Guest of Honour pada tahun 2015, bertepatan dengan peringatan 70 tahun kemerdekaan RI. Hanya ada 1 negara yang bisa menjadi Guest of Honor di setiap penyelenggaraan pesta buku ini. Sebagai Guest of Honour di penyelenggaraan tahun 2015, negara kita mendapatkan berbagai keistimewaan, di antaranya pajanan internasional karena menjadi primadona dalam liputan media. Pajanan ini tidak hanya dalam bidang industri penerbitan saja, melainkan hampir semua aspek karena peserta pameran bukan hanya penerbit, agen naskah, dan percetakan, melainkan juga pelaku industri lain yang terkait, seperti film, komputer, dan teknologi informasi, termasuk pernak-pernik kaki lima.

Menurut  Ibu Nova, FBF yang biasa dilaksanakan selama 5 hari ini  merupakan acara yang diliput oleh berbagai media massa Jerman dan internasional. Tak kurang dari stasiun TV dan radio, koran, serta majalah di Jerman ikut meliput acara bergengsi ini. Ini tentu juga merupakan sarana publikasi dan promosi yang baik sekali. Selama ini, sebagian besar kehadiran penerbit Indonesia di FBF adalah untuk membeli copyright buku-buku berbahasa asing untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudain menerbitkannya Indonesia.   Peran sebagai GoH di tahun 2015 ini merupakan terobosan baru IKAPI untuk memperkanalkan dan memasarkan buku-buku baru Indonesia di luar negeri.  “Ikapi goes international!”

Selagi para peserta mulai bertanya-tanya apa hubungannya dengan dunia penerjemahan, Ibu Nova menuturkan bahwa untuk menjadi GoH tentu ada syaratnya yaitu harus memamerkan 1500 judul buku dan 200 di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.  Selain itu, kita juga bisa memamerkan buku-buku indonesia baru dalam bahasa asing lainnya.  Tidak perlu untuk menerjemahkan seluruh buku, melainkan cukup dibuatkan sinopsisnya dalam bahasa Jerman/asing lainnya yang akan dimuat dalam katalog pameran. Dari tahun ke tahun, buku-buku yang menarik minat di Frankfurt Book Fair di antaranya adalah novel, buku anak, sastra, komik, buku masakan dan buku teks. Di stand Indonesia sendiri, pengunjung biasanya mencari buku anak-anak, buku-buku islam atau bernuansa Islam, peta Indonesia, serta buku bertema budaya.

Sampai saat ini penerbitan buku berbahasa asing masih berupa inisiatif masing-masing penerbit. Dan kebanyakan, itu merupakan proyek terjemahan buku berbahasa asing (terutama Inggris) ke bahasa Indonesia. Padahal di FBF, peluang untuk memamerkan sekaligus memasarkan buku karya penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Inggris sangat besar. Tentu saja ini merupakan tantangan bagi kita sebagai penerjemah yang sepatutnya kita sambut.

Untuk memenuhi kebutuhan penerjemahan buku berbahasa Indonesia ke bahasa asing itu, IKAPI berencana membuat wadah berupa database penerjemah di situs webnya, lengkap dengan subyek dan pasangan bahasa yang dikuasai masing-masing penerjemah beserta informasi kontak yang dapat dihubungi. IKAPI juga menyatakan ingin merangkul HPI untuk turut meramaikan perhelatan akbar yang belum ada tandingannya ini. Tawaran ini tentu menggiurkan. Karena sebagai penerjemah kita mendapat peluang untuk menerjemahkan buku karya penulis Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan Jerman sekaligus mendapat peluang mempromosikan penerjemah Indonesia itu sendiri. Germany, anyone?

Pembicara kedua adalah Mbak Eliza Handayani sebagai pemrakarsa pendirian Pusat Penerjemahan Sastra, yang menjadi semacam ruang bertemunya berbagai unsur penerjemahan sastra. Mbak Eliza menjelaskan berbagai hal tentang penerjemahan sastra. Menurut beliau, seorang penerjemah sastra haruslah memiliki ketrampilan menulis agar dia bisa menyampaikan niat penulis atau gaya kepenulisan  dalam buku yang diterjemahkannya secara berjiwa. Namun, dalam menjalankan tugasnya ini, penerjemah sastra seringkali menghadapi beberapa tantangan, antara lain masih kurangnya keahlian (baik keahlian menerjemahkan maupun menulis), buku yang diterjemahkan adalah buku berbahasa Inggris yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa asing lain, serta ketiadaan akses penerjemah kepada penulis buku dan kurangnya komunikasi antara editor dengan penerjemah yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Hal lain yang cukup mengejutkan adalah penjelasan Mbak Eliza bahwa buku terjemahan di pasaran laris bukan karena hasil terjemahan, tapi lebih karena profil penulis buku itu (yang biasanya sudah terkenal) dan bagaimana tampilan buku itu.  Sampai di sini saya terhenyak. Mengapa peran penerjemah sepertinya begitu kecil dalam proses terbitnya sebuah buku terjemahan? Apakah kita perlu membuat penerjemah menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan oleh pembeli sebelum membeli buku?

Selain itu, Mbak Eliza juga mengungkapkan keprihatinan akan belum adanya hak cipta untuk penerjemah. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa penerjemah pun selayaknya mendapatkan penghargaan sebagaimana penghargaan yang diberikan kepada penulis antara lain dengan mendapatkan royalti atas penjualan buku yang diterjemahkan.

Jadi, penerjemah buku yang tidak menguasai penerjemahan bahasa indonesia ke bahasa asing tidak perlu berkecil hati. Pemaparan Mbak Eliza tentang inisiatif pembentukan Pusat Penerjemahan Sastra sungguh bagaikan angin segar di siang hari musim kemarau yang panas. Pusat Penerjemahan Sastra ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penerjemahan sastra di Indonesia, yaitu dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karya sastra dari manca negara, mulai dari karya klasik, modern, sampai kontemporer, dan berinisiatif mengatasi kendala-kendala utama bagi penerjemahan sastra di Indonesia. Langkah pertama dari inisiatif ini adalah mengadakan lokarya penerjemahan sastra  dan seminar yang berjudul “TOWARDS AN INDONESIAN LITERARY TRANSLATION CENTER.”

Acara pertemuan ini dihadiri tidak saja dari kalangan penerjemah, melainkan juga dari penerbit dan akademisi (Universitas Terbuka).  Diskusi hangat mewarnai gelar wicara. Seperti biasa, acara Komp@k HPI kali ini ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pembicara dari Ketua HPI Bapak Eddie Notowidigdo kepada kedua pembicara. Ada yang istimewa dalam penyerahan kenang-kenangan kali ini. Karena di samping memberikan bingkisan, Pak Eddie juga memberikan CD berisi CV para penerjemah yang mengikuti acara hari ini kepada Ibu Nova dan Mbak Eliza. Kiranya, semua peserta berdoa dalam hati saat Pak Eddie memberikan CD itu, agar suatu hari nanti, dirinya dihubungi oleh Bu Nova atau Mbak Eliza untuk mengerjakan proyek terjemahan bersama mereka. Aamiin…

Selain itu, kenang-kenangan juga diberikan kepada Mbak Dita Wibisono,  sosok yang selama ini menjadi tokoh di balik layar penyelenggaraan HPI Komp@k. Terima kasih banyak untuk dedikasi Anda selama ini, Mbak Dita.

Acara kumpul HPI tanpa makanan enak itu seperti minum air es tanpa es. Rekor kelima yang dicapai hari ini adalah jumlah makanan enak yang membentang di dua meja berbentuk huruf L. Dari Soto Bandung, ayam kacang polong, gurame asem manis, bistik lidah, macaroni schottel, soun goreng, huzaren sla plus rujak mangga serta puding coklat yang hoaaaaa benar-benar enak.

Sambil menikmati makan siang, para narcis tak henti-hentinya mengumbar gaya, karena juru foto kali ini pun memecahkan rekor keenam, ada 5 juru foto yang bertugas pada acara ini, Bapak Roudi Hendarto (spesialis foto propic FB dan BB), Arfan Achyar (spesialis foto candid yang hmmmm), Ijul Baso (spesialis foto cantik), Indriastuti Salim (spesialis foto candid cantik) dan Lucia Aryani (sang mamarazzi). Ketika datang pun peserta sudah disambut juru foto entah dari mana, serasa jalan di karpet merah. Ketika pulang foto bisa diambil di juru foto cabutan dari antah berantah yang pastinya bukan anggota HPI.

Acara makan-makan pun diramaikan oleh kesibukan para peserta yang berbelanja berbagai cendera mata HPI dan Bahtera. Mulai dari kaos, payung, stiker, sampai buku Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna yang ditulis oleh para penerjemah yang tergabung dalam Bahtera.

Tawa dan sapa seperti tidak pernah selesai, ketika muka lapar sudah berganti muka senang karena kenyang, saatnya foto bersama. Daaaannn… rekor ketujuh pun pecah. Mendadak para peserta mengeluarkan kamera masing-masing hingga ada kurang lebih sepuluh kamera tergeletak di meja, sampai-sampai Bu Lurah FB-HPI yang biasa di foto, menyatakan menolak mentah-mentah bila ada tawaran menjadi foto model.

Hati ini terasa hangat bertemu teman-teman yang di mata jauh, di hati dekat; perut mengalunkan simfoni indah setelah dibelai makanan nikmat; foto-foto pun cantik. Indahnya berbagi… Sampai jumpa lagi teman-teman….

DiFi, Dina, Mila

 

2 September 2012 20 comments
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

Temu HPI Komp@k: Interpreting : the jobs, the challenges, the opportunities

by Dina Begum 31 Agustus 2012
written by Dina Begum

HPI Komda Jabar kembali menyelenggarakan acara Temu HPI Komp@k (Pertemuan HPI, Komunitas Penerjemah, dan Kerabat) dengan tema:

“Interpreting : the jobs, the challenges, the opportunities”

Narasumber:

Indra Blanquita (Interpreter Inggris-Indonesia, Penerjemah Tersumpah)
Samuel Siahaan (interpreter Inggris/Jerman-Indonesia, Licenses Manager PT Indofood Sukses Makmur)
Meidy Maringka (Interpreter Inggris-Indonesia)
Susi Septaviana (Pengajar Interpreting di UPI Bandung)

Moderator: Maria Renata

Waktu: Sabtu, 8 September 2012, Pukul 09.00 – 13.00 WB
Tempat: Golden Lotus Restaurant, Galeri Ciumbuleuit Hotel & Apartment, Jl. Ciumbuleuit No. 42 A, Bandung

  1. Batas akhir pendaftaran tanggal 6 September 2012.
  2. Biaya peserta 60 ribu rupiah (anggota HPI) dan 75 ribu rupiah (bukan anggota HPI).
  3. Anggota HPI mohon mencantumkan nomor anggota dalam berita transfer.
  4. Pendaftaran dilakukan secara online di http://goo.gl/3owXk
  5. Boleh bayar di tempat, asalkan tetap mengisi formulir pendaftaran dan akan ditagih meskipun tidak jadi datang ke acara.

Silakan transfer biaya pendaftaran ke rekening HPI Komda Jabar:
BCA KCP Abdul Rahman Saleh Bandung – a.n. Betty Sihombing – No. rekening: 5150112321
Bank Mandiri KCP Bandung Pajajaran – a.n. Betty Sihombing – No. rekening: 132-00-1170630-7
Silakan lakukan konfirmasi pembayaran ke surel: jabar@hpi.or.id.

Narahubung: Bu Meita Lukitawati (SMS 082119081970), Pak Ricky Zulkifli (SMS 0811228763, PIN 23414DB8)

31 Agustus 2012 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Lapanta

Lapanta: Temu HPI Komda DIY-Jateng, 24 Agustus 2012

by Dina Begum 26 Agustus 2012
written by Dina Begum

Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Claryssa Suci sebagai Ketua HPI Komda DIY-Jateng. Dalam sambutannya, Claryssa memaparkan sedikit tentang pembentukan HPI Komda DIY-Jateng, tentang HPI dan tentang cara menjadi anggota HPI. Acara dilanjutkan dengan perkenalan singkat peserta.

Kemudian acara dilanjutkan oleh Ade Indarta, sebagai Localization Quality Manager Bahasa Indonesia di Expedia, Singapura, yang berbagi pengalamannya sebagai penerjemah dari masa kuliah di Universitas Gajah Mada hingga saat ini sebagai penerjemah in-house di Singapura. Beliau mengaku sebagai orang yang cepat bosan, sehingga sempat berpindah tempat kerja beberapa kali, yang kesemuanya berhubungan dengan bidang penerjemahan.

Sharing ini segera ditanggapi oleh beberapa peserta dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing diskusi seru dari peserta yang seluruhnya berjumlah 24 orang. Diskusi berkembang hingga ke masalah tarif, jangka waktu pembayaran, rantai kerja bidang penerjemahan, suka duka menjadi penerjemah, kualitas terjemahan, dsb.

Acara ini juga mengundang Direktur Pemad International Translation, Mbak Vita, yang berbagi informasi tentang sistem kerja bidang penerjemahan dari sisi agensi terjemahan. Yang menarik adalah Pemad International Translation memberi kesempatan bagi peserta yang ingin mengirimkan CV-nya.

Ada juga Ibu Rahmani Astuti yang datang dari Solo bersama Cininta, putri tercintanya. Bu Rahmani berbagi pengalamannya sebagai penerjemah buku. Kecintaannya pada buku membawanya menjadi penerjemah buku. Menerjemahkan buku tidak membuatnya jenuh, karena tiap kalimat memupuk rasa penasarannya terhadap kalimat selanjutnya.

Yang tak kalah menariknya, pengalaman yang disampaikan oleh Sakdiyah Ma’ruf sebagai juru bahasa di area bencana, dan sebagai penerjemah untuk galeri seni dan LSM. Meskipun datang terlambat, kisah pengalamannya membuat suasana lebih seru.

Selain Sakdiyah, ada beberapa rekan yang datang terlambat. Di antaranya adalah Kristiyanti Mumtaza yang datang jauh-jauh dari Semarang dan Ria Ulfah Ardhiany dari Magelang. Namun demikian, kehadiran Mbak Kristiyanti dan Mbak Ria menularkan semangat pada rekan-rekan lain.

Terima kasih juga kepada Mas Sudiatno yang sudah datang jauh-jauh dari Semarang, Mas Helmy dari Temanggung, dan Mas Sugianto dari Kutoarjo. Sayang sekali Mbak Riana tidak bisa ikut berbagi, karena datang saat acara sudah selesai.

Untuk menjawab keingintahuan rekan-rekan yang penasaran mengenai pengalaman kurang enak dengan pengguna jasa terjemahan, Claryssa berbagi pengalamannya dalam berhadapan dengan klien yang beragam, dari klien akhir hingga agensi terjemahan, yang cukup murah hati dan membayar segera setelah terjemahan diselesaikan, maupun yang nakal, dalam arti menunda-nunda pembayaran hingga menolak untuk membayar sama sekali. Pengalaman membuatnya lebih bijak dalam menghadapi klien dan menerima pekerjaan dari klien.

Secara umum, acara Temu HPI Komda DIY-Jateng yang terselenggara tanggal 24 Agustus 2012 di Resto Sendang Ayu kemarin berjalan santai dan menyenangkan, serta membawa manfaat dan kesan mendalam bagi semua. Untuk itu, kami selalu berterima kasih kepada Bp. Eddie R. Notowidigdo, selaku Ketua Umum HPI, dan seluruh rekan anggota HPI atas segala doa, dukungan, serta bimbingannya. Menanggapi saran, usulan, dan permintaan dari rekan-rekan HPI Komda DIY-Jateng, kami berharap agar acara-acara serupa dapat terlaksana secara berkala untuk memupuk rasa kebersamaan, saling berbagi pembelajaran, dan memajukan dunia penerjemahan Indonesia.

Sandra Dewi Wirawan
Bendahara HPI Komda DIY-Jateng
HPI-01-10-0202

26 Agustus 2012 5 comments
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

Temu HPI Komda DIY-Jateng

by Dina Begum 18 Agustus 2012
written by Dina Begum

Rekan-rekan Anggota HPI Komda DIY-Jateng, 

HPI Komda DIY-Jateng mengundang seluruh anggota HPI, khususnya anggota HPI Komda DIY-Jateng, anggota Bahtera dan profesional/peminat bidang penerjemahan dan kejurubahasaan untuk mengikuti acara Halal Bihalal dan bersilaturahmi dalam suasana Idul Fitri serta tentunya yang tidak kalah menarik adalah berbagi pengalaman dan informasi seputar dunia penerjemahan dengan para penerjemah dan juru bahasa di wilayah DIY-Jateng, salah satunya Ade Indarta, sebagai Localization Quality Manager Bahasa Indonesia di Expedia, Singapura (anggota HPI Pusat Bidang Pengembangan Profesi).

Manfaatkan juga acara ini untuk membangun jejaring kerja dengan sesama profesional dalam bidang penerjemahan dan kejurubahasaan.

Silakan catat waktunya dan segera daftarkan diri Anda untuk ambil bagian dalam acara ini:

Hari, Tanggal: Jumat, 24 Agustus 2012
Waktu: pukul 14.00 –
Tempat: Resto Sendang Ayu, Jl. Jogja – Solo km 15, Kalasan, Yogyakarta

Bagi anggota HPI yang akan mengambil kartu anggotanya, kami persilakan untuk mengambil kartu anggota saat berlangsungnya acara tersebut.

Untuk memudahkan panitia mempersiapkan konsumsi dan lain-lain, segera lakukan pendaftaran sebagai berikut:

  • Menghubungi Sandra melalui surel: sandradewi_w@yahoo.com
  • Melakukan pembayaran
    Biaya:
    Rp 35.000 untuk anggota HPI
    Rp 40.000 untuk non-anggota
  • Untuk memudahkan proses administrasi, mohon agar mencantumkan Nama dan Nomor Anggota HPI ketika melakukan pembayaran melalui Internet Banking atau melalui Mesin ATM Non-Tunai. Apabila pembayaran dilakukan melalui Mesin ATM Tunai, mohon agar 3 digit terakhir nomor anggota HPI disertakan dalam pembayaran, misalnya Sandra Dewi Wiraran – Rp. 40.202,- (3 digit terakhir, 202, adalah nomor Anggota HPI Sandra Dewi Wiraran).
  • Pembayaran dapat dilakukan melalui:
    Bank BCA a.n. Sandra Dewi Wirawan, no. ac.: 250-170-6193
    Bank Mandiri a.n. Suci Puspa Dewi, no. ac.: 137-00-0647343-9

Bagi yang sudah melakukan pembayaran, mohon untuk segera melakukan konfirmasi.

Terima kasih, kami tunggu kehadiran rekan-rekan semua di Yogyakarta.

Salam hangat,

Claryssa Suci
HPI-01-10-0204
Ketua HPI Komda DIY-Jateng

18 Agustus 2012 1 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

HPI Komp@k 1 September 2012

by Dina Begum 8 Agustus 2012
written by Dina Begum

Temu KOMP@K HPI, Temu BAHTERA
dan HALAL BIHALAL HPI-BAHTERA

Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan Bahtera mengundang anggota HPI, anggota Bahtera dan profesional/peminat bidang penerjemahan dan kejurubahasaan, untuk mempererat tali silaturahim sekaligus menambah wawasan dan informasi dalam acara  Temu KOMP@K HPI – Temu Bahtera dan Halal Bihalal HPI-Bahtera.

Tema kali ini sangat menarik yaitu tentang Kolaborasi HPI dan IKAPI terkait dengan penerjemahan buku dan penerbitan buku terjemahan serta paparan tentang prakarsa pendirian Pusat Penerjemahan Sastra.  Kedua tema ini akan dibahas bersama dengan IKAPI (Ibu Nova Rasdiana) dan Ibu Eliza Handayani selaku Pemrakarsa Pusat Penerjemahan Sastra.

Acara akan ditutup dengan Halal Bihalal menjalin silaturahim dan membangun jejaring kerja dengan sesama profesional dalam bidang penerjemahan dan kejurubahasaan.

Karena itu, jangan lupa tandai kalender Anda dan segera daftarkan diri untuk hadir pada:

Narasumber:Ibu Nova Rasdiana (IKAPI), 
Ibu Eliza Handayani (Pemrakarsa Pusat Penerjemahan Sastra)

Hari, Tanggal: Sabtu, 1 September 2012
Waktu: pukul 09.00 – 14.00
Tempat: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat
Narasumber: Ibu Nova Rasdiana (IKAPI), Ibu Eliza Handayani (Pemrakarsa Pusat Penerjemahan Sastra)

Untuk pendaftaran:

  • Hubungi Sekretariat HPI:  telepon 021-71617397 atau surel: sekretariat@hpi.or.id
  • Melakukan pembayaran Rp100.000,-
  • Pembayaran dilakukan melalui:
    Bank Mandiri
    Rekening No. 1030005150533
    Atas Nama: Himpunan Penerjemah Indonesia
    BCA
    Rekening No. 4361630071
    Atas Nama Bendahara HPI: Nelce Manoppo

Pada acara tersebut Ibu Nova Rasdiana juga telah menyatakan kesediaannya untuk menerima Riwayat Hidup rekan-rekan penerjemah buku atau yang berminat memulai karier sebagai penerjemah buku, guna diunggah ke situs web IKAPI sehingga dapat dilihat oleh seluruh anggota IKAPI.  Untuk itu, bagi rekan-rekan yang akan hadir, kami persilakan untuk mengirimkan Riwayat Hidup (softcopy) masing-masing ke Sekretariat HPI selambat-lambatnya tanggal 30 Agustus 2012 agar dapat disimpan ke CD untuk diserahkan kepada IKAPI. Untuk menyeragamkan mohon berkas diberi nama sebagai berikut: CV-[nama]-Agt2012 dan disimpan dalam format PDF.

Kami menunggu kehadiran rekan-rekan pada acara tersebut di atas.

 

8 Agustus 2012 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

Pelatihan Penerjemahan Dokumen Hukum

by Dina Begum 6 Juli 2012
written by Dina Begum

KHUSUS UNTUK ANGGOTA HPI

“Penerjemahan Dokumen Notarial”

Hari, Tanggal: Minggu, 23 September 2012
Waktu: pukul 08.00 – 17.00
Tempat: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat
Fasilitator: Evand Halim M.Hum
Ahli Bahasa, Pakar Penerjemahan Teks Hukum, Pengajar Para Trainer, Penerjemah Bersumpah dan Anggota HPI

Model Pelatihan:

  • Sesi Pengajaran
  • Sesi Studi Kasus
  • Sesi Review
  • Sesi Tanya Jawab

Peserta dapat membawa kamus sendiri pada saat pelatihan, disarankan kamus ekabahasa (misalnya Oxford, atau Merriam-Webster).
Peserta dipersilakan membawa laptop jika dirasa perlu. Disarankan membawa kabel extension sendiri mengingat kabel yang tersedia mungkin tidak memadai.

Testimonium Ratih Purnamasari:

Menyambung “Lokakarya Penerjemahan Akta Notaris” yang diselenggarakan HPI kemarin, silakan teman-teman merujuk pada PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN untuk mendapatkan aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. (Acara yang menarik dan kaya ilmu….Terima kasih, HPI!)

Evand Halim M.Hum

6 Juli 2012 2 comments
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

HPI Komp@k: “Suka Duka dan Kiat Menjadi Penerjemah Game Yang Sukses”

by Dina Begum 11 Juni 2012
written by Dina Begum

Dewasa ini semakin beragam jenis game yang dimainkan melalui jejaring sosial, media berbasis internet atau bahkan perangkat seluler lainnya. Besarnya jumlah pemain yang berasal dari Indonesia menimbulkan semakin banyaknya kebutuhan game berbahasa Indonesia. Kondisi ini tentunya memberikan peluang yang besar bagi para penerjemah di Indonesia untuk menekuni penerjemahan game. Untuk mengetahui seluk beluk menjadi penerjemah game, kami mengundang rekan-rekan untuk mengikuti Temu HPI Komp@k dengan tema “Suka Duka dan Kiat Menjadi Penerjemah Game Yang Sukses” yang akan diselenggarakan pada:

Hari:     Sabtu, 23 Juni 2012
Waktu:     09.00 – 14.00
Tempat:     Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin –  Taman Ismail Marzuki,  Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat
Narasumber:     Ibu Daisy Subakti dan Ibu Maria Renata

Tentang pendaftaran:

Biaya:
Rp 100.000 – untuk anggota HPI
Rp 125.000 – untuk non-HPI

Pendaftaran dapat dilakukan dengan menghubungi Sekretariat HPI atau mengirimkan surel ke sekretariat@hpi.or.id, sekaligus dengan mengirimkan bukti pembayaran Anda.

PENTING UNTUK DIPERHATIKAN

Untuk memudahkan proses administrasi, seluruh anggota HPI dimohon untuk melakukan pembayaran dengan menyertakan 3 DIGIT TERAKHIR NOMOR ANGGOTA HPI, misalnya Dita Wibisono – Rp. 100.230,- (3 digit terakhir, 230, adalah nomor Anggota HPI Dita Wibisono).

Silakan lakukan pembayaran melalui, dua rekening di bawah ini:

Bank Mandiri

Rekening No. 1030005150533
Atas Nama: Himpunan Penerjemah Indonesia

ATAU

BCA

Rekening No. 4361630071
Atas Nama Bendahara HPI: Nelce Manoppo

Kami tunggu kehadiran Anda …….

Salam,

Dita Wibisono

Koordinator Bidang Kegiatan HPI

11 Juni 2012 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Acara

Pelatihan Penerjemahan Dokumen Hukum

by Dina Begum 30 April 2012
written by Dina Begum

Pelatihan Penerjemahan Dokumen Hukum

KHUSUS UNTUK ANGGOTA HPI

 

“Penerjemahan Peraturan Perundang-undangan”

 

 

Rekan-rekan Anggota HPI yang baik,

 

Himpunan Penerjemah Indonesia (“HPI”) kembali akan menyelenggarakan Pelatihan Penerjemahan Dokumen HukumKHUSUS UNTUK ANGGOTA HPI, dengan tema “Penerjemahan Peraturan Perundang-undangan” yang akan disampaikan oleh Bapak Evand Halim. Proses menerjemahkan Undang-undang, Peraturan Pemerintah, ataupun Surat Keputusan memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang sangat spesifik dari penerjemah. Pelatihan ini diadakan dengan tujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada para anggotanya sesuai dengan visi HPI yakni meningkatkan mutu penerjemah, penerjemahan dan terjemahan.

 

Mohon dicatat, pelatihan akan diselenggarakan pada:

Hari:                            Minggu, 13 Mei 2012

Waktu:                        Pukul 08.00 – 17.00

Tempat:                      Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Taman Ismail Marzuki

Jl. Cikini Raya

Jakarta Pusat

Fasilitator:                Evand Halim M.Hum

Ahli Bahasa, Pakar Penerjemahan Teks Hukum, Pengajar Para Trainer, Penerjemah Bersumpah dan Anggota HPI

 

Investasi:                  Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)

 

Model Pelatihan:

•           Sesi Pengajaran

•           Sesi Studi Kasus

•           Sesi Review

•           Sesi Tanya Jawab

 

 

PENDAFTARAN:

  • Hanya Melalui Sekretariat HPI:  telepon 021-71617397 atau surel: sekretariat@hpi.or.id
  • Mengingat TEMPAT YANG SANGAT TERBATAS, maka peserta akan dianggap telah terdaftar jika peserta telah membayar biaya kesertaannya.  PENTING: Peserta harus segera memberitahu sekretariat apabila sudah melakukan pembayaran.
  • Peserta yang mendaftar setelah jumlah tempat terpenuhi, akan dimasukkan dalam Daftar Tunggu.
  • Pembayaran terakhir adalah Hari RABU – 9 MEI 2012 pukul 12.00 siang, apabila tidak ada berita dari peserta tentang pembayaran pada tenggat tersebut, maka tempat akan diberikan kepada mereka yang telah tercantum namanya di Daftar Tunggu.
  • Pendaftaran akan segera ditutup begitu jumlah peserta yang membayar telah memenuhi jumlah yang telah ditetapkan sesuai dengan kapasitas ruangan, yakni 40 orang.        
  • Untuk memudahkan proses administrasi, mohon agar mencantumkan Nama dan Nomor Anggota HPI ketika melakukan pembayaran melalui Internet Banking atau melalui Mesin ATM Non-Tunai. Apabila pembayaran dilakukan melalui Mesin ATM Tunai, mohon agar 3 digit terakhir nomor anggota HPI disertakan dalam pembayaran, misalnya Naindra Pramudita – Rp. 500.230,- (3 digit terakhir, 230, adalah nomor Anggota HPI Naindra Pramudita).
  • Pembayaran dilakukan melalui:

o          Bank Mandiri

Rekening No. 1030005150533

Atas Nama: Himpunan Penerjemah Indonesia

 

o          BCA

Rekening No. 4361630071

Atas Nama Bendahara HPI: Nelce Manoppo

 

Catatan Lain:

  • Peserta dapat membawa kamus sendiri pada saat pelatihan, disarankan kamus ekabahasa..
  • Peserta dipersilakan membawa laptop jika dirasa perlu. Disarankan membawa kabel extension sendiri mengingat kabel yang tersedia   mungkin tidak memadai.
  • Agar pelatihan ini dapat berjalan dengan baik, peserta dimohon untuk datang tepat waktu.

 

 

Kami tunggu pendaftaran dan konfirmasi Anda.

 

Salam,

Dita Wibisono

Koordinator Kegiatan HPI
—
Sekretariat Himpunan Penerjemah Indonesia
T. +62-21-71617397 | F.+62-21-7654603 | http://www.hpi.or.id

30 April 2012 1 comment
0 FacebookTwitterPinterestLinkedinTumblrWhatsappTelegramLINEEmail
Newer Posts
Older Posts

Pos-pos Terbaru

  • Teknologi dalam Penerjemahan
  • Penjurubahasaan
  • Memantik Langkah Praktik menjadi Penerjemah Teks Akademik
  • Kehangatan Silaturahmi dan Sinergi Baru di Halalbihalal HPI 2026
  • Dari Pemula menuju Profesional

Komentar Terbaru

  • Michael pada Rapat Umum Badan Pengurus & Anggota HPI Tengah Tahun 2025
  • Rekomendasi Jasa Sworn Translator di Bali 2025 pada Praktik Baik Bekerja sebagai Juru Bahasa
  • Beasiswa Full S2 dan S3 ke Australia | AAS 2025 - Penerjemah Tersumpah pada Sertifikasi
  • Jasa Translate Ijazah Sekolah Jakarta | Cukup dengan 6... pada Sertifikasi
  • Translate Every Word With Us! – FIB-UGM pada Acuan Tarif Penerjemahan
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Email

© 2020 Himpunan Penerjemah Indonesia

Himpunan Penerjemah Indonesia
  • Beranda
  • Organisasi
    • Sejarah
    • Komisariat Daerah
      • HPI Komda Jabar
      • HPI Komda Jatim
      • HPI Komda Bali
      • HPI Komda DIY
      • HPI Komda Jateng
      • HPI Komda Kepri
      • HPI Komda Kalsel
      • HPI Komda Kaltimtara
      • HPI Komda Sulsel
      • HPI Komda Sumbagut
      • HPI Komda Sumbar
    • Pengurus
    • Mitra
    • Dasar Hukum
    • AD/ART
    • Laporan Tahunan
    • Kongres HPI
  • Berita & Cerita
    • Berita
    • Cerita
    • Nawala
    • Galeri
  • Kegiatan
    • Mendatang
    • Lampau
Himpunan Penerjemah Indonesia
  • Profesi
    • Kode Etik & Kode Perilaku
    • Acuan Tarif
    • Sertifikasi
      • Informasi TSN HPI
  • Anggota
    • Informasi
    • Pengajuan
    • Sihapei
  • Kontak
© 2020 Himpunan Penerjemah Indonesia